MATARAM, INSANCHANNEL.COM – Rektor UIN Mataram, Prof. DR. H. Masnun Tahir, M.Ag mengungkapkan, kegiatan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Bima merupakan karya bersama dalam urusan dunia dan urusan akhirat sekaligus dalam rangka membumikan Al-Qur’an yang menjadi amal jariah dan amal jamiah yang terus mengalir pahalanya di sisi Allah.

“Jangankan menerjemah, membacapun itu mendapatkan nilai-nilai ibadah,” tandas Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag, Rektur UIN Mataram pada acara Validasi Penerjemahan Al-Qur’an ke Dalam Bahasa Bima tahap I di Hotel Aston Mataram, Selasa (26/7/2022).
Dengan kegiatan penerjemahan ini lanjutnya lagi, merupakan salah satu wujud dari hadirnya UIN Mataram diterima dan dirindukan di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu tambahnya, pihaknya kini tengah mengusulkan untuk S2 prodi tafsir dan penerjemahan kearifan lokal. “Karena sejarah penerjemahan Al-Qur’an itu tidak sekedar penerjemahan ansih tapi ada faktor-faktor yang mengitarinya termasuk kearifan-kearifan lokal,” paparnya pada acara yang dihadiri Prof. Dr. Askal Salim dari Puslitbang Lektur Kemenag. Pusat.
Di depan Tim Penerjemah dari UIN Mataram dan Tim Validator yang ada di Bima dan Dompu, Rektor UIN Mataram ini mengungkapkan bahwa perjalanan Islam di Bima sangat panjang dan menjadi tidak cukup perjalanan Islamisasi itu tanpa penterjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Bima. Karena Bima memiliki tokoh besar bernama Syaikh Abdul Gani Al-Bimawi yang merupakan guru dari Syaikhuna Khalil Bangkalan. “Karena gurunya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari itu adalah Syaikhuna Khalil Bangkalan dan Syaikh Khalil Bangkalan itu berguru dengan Syaikh dari Bima yakni Syaikh Abd. Gani Al-Bimawi,” ungkap Ketua PWNU NTB ini.

Sementara itu Puslitbang Lektur Kemenag. Pusat, Prof. Dr. Askal Salim, M.Ag pada kesempatan yang sama memberikan apresiasi yang tinggi atas langkah-langkah yang dilakukan oleh tim penerjemah dari UIN Mataram dan tim validator. “Terima kasih banyak atas segala upaya yang perjalanannya tidak mudah bahkan menempuh perjalanan darat,” ucapnya seraya berharap agar semua itu bernilai pahala di sisi Allah.
Lebih lanjut Prof. Dr. Askal Salim mengungkapkan, pemilihan bahasa Bima sebagai salah satu target penerjemahan Al-Qur’an ini merupakan rangkaian upaya Kementerian Agama dalam rangka mendorong penterjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa daerah seluas-luasnya. Saat ini sudah ada 4 terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah. “Dan dalam proses ada sekitar 500 termasuk bahasa Bima,” paparnya. Dan Bahasa Bima sendiri katanya, sudah dilangsungkan sejak tahun lalu. “Bahasa Bima melengkapi bahasa-bahasa yang ada di NTB yang sudah ada saat ini,” katanya lagi.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. Hj. Atun Wardatun, M.Ag menyampaikan ucapana terima kasih atas kehadiran tim validator yang sudah dari jauh dari Bima untuk melaksanakan kegiatan validasi penerjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Bima. “Tahap sekarang adalah mendengar pendapat ahli setelah ada proses validasi,” paparnya seraya menambahkan, akan ada tahap kedua juga mendengarkan pendapat para ahli dan singkronisasi terakhir terkait hasil-hasil kerja tim.
Wanita tangguh asal Bima yang juga guru besar UIN Mataram ini juga menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan Jurnal Ulumuna UIN Mataram yang telah berhasil meraih predikat terindek scopus. “Saya sempat jingkrak-jingkrak atas prestasi yang diraih Jurnal Ulumuna ini,” jujur aktifis wanita yang juga istri dari Dr.H. Abdul Wahid, dosen UIN Mataram ini. Dia juga menyebut prestasi-prestasi lain saat kepemimpinan Prof.Dr.H.Masnun Tahir, M.Ag sebagai Rektor termasuk prestasi akreditasi unggul untuk PGMI. (nas)











