DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Produksi padi di Kabupaten Dompu tahun 2024 akan kembali mengalami surplus. Luas tanam komoditi padi hingga 30 September mencapai 32.336 ha atau 89,31 persen dari target 36.206 ha. Tidak hanya mengalami surplus, petani juga mengalami keuntungan dari stabilnya harga gabah.
Berdasarkan data pemantauan oleh Petugas Informasi Pasar (PIP) Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu pada 7 Oktober 2024, harga gabah kering panen (GKP) Rp.6,3 ribu per kg dan gabah kering giling (GKG) Rp.7,4 ribu per kg. Sementara harga beras medium Rp.12,5 ribu per kg dan beras premium Rp.13 ribu per kg.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Nurhidayah, SST pada Senin (7/10/2024) mengungkapkan, luasan area tanam padi tahun 2024 diyakini akan tetap membuat produksi gabah di Kabupaten Dompu mengalami surplus. Kendati ada kecenderungan petani saat ini menjual gabahnya saat dipanen, tapi para petani akan tetap menyisakan untuk dikonsumsi. “Walaupun langsung dijual, petani kita pasti menyimpan sebagian gabahnya untuk dikonsumsi,” katanya.
Pilihan petani langsung menjual gabahnya pasca dipanen, disebut karena sistem panen yang mesin kombain meringankan petani untuk biaya produksi. Petani tidak lagi menunggu lama untuk melihat hasil produksi. Pembeli juga langsung menunggu di jalan untuk membeli gabah petani. “Kalau disimpan, petani justru dirugikan karena harus mengeluarkan biaya dan tenaga untuk pengeringan sebelum disimpan. Belum lagi terjadi penyusutan gabah yang tinggi,” jelasnya.
Nurhidayah mengatakan, penggunaan mesin kombain untuk alat panen padi cukup membantu petani di tengah keterbatasan tenaga melakukan panen secara tradisional. Namun petani masih harus menggunakan tenaga manusia untuk proses penanaman, karena belum merasa diuntungkan menanam dengan alat tanam padi. “Kita akan terus membantu petani agar produktivitas pertaniannya tinggi, tapi biaya produksinya murah,” katanya.
Pemupukan berimbang juga terus diedukasi petatani. Bahkan penggunaan beberapa jenis pupuk organik, terus dilakukan dalam rangka menjaga keseimbangan tanah. “Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan justru akan merusak unsur hara pada tanah dan berdampak pada produktivitas pertanian di masa depan. Ini yang kita jaga,” ungkapnya.
Bantuan mesin air dari pemerintah yang didistribusikan bersama jajaran TNI, juga cukup membantu petani dalam memenuhi kebutuhan air di musim kemarau. Mesin itu, tidak hanya digunakan untuk menaikan air sumur dalam, tapi juga banyak yang memanfaatkan air sungai dan selama ini tidak termanfaatkan. “Sehingga dampak kekeringan pada tanaman padi saat ini sudah tidak kita dengar lagi,” ungkapnya.
Sementara luas tanam jagung 63.829 ha atau 90,11 persen dari target 70.836 ha dan kacang kedelai hanya 1.317 ha atau 44,36 persen dari target 2.969 ha. Harga komoditi jagung juga cenderung tidak stabil. Kendati pemerintah sudah memperjuangkan standar harga yang tinggi hingga diterbitkannya Peraturan Badan Pangan Nasional sebagai acuan Bulog dalam membeli jagung, tetap saja tidak bisa berpengaruh banyak.
Kondisi harga jagung ini tidak hanya di Dompu, tapi merata secara nasional. Bahkan beberapa daerah justru harganya lebih rendah dari Dompu. Harga komoditi jagung saat ini berkisar Rp.4.200 per kg hingga Rp.4.550 per kg. Untuk kedelai, harganya Rp.7.100 per kg. (02ic/*)











