DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Penyair besar Rabi’ah al-Adawiyah yang telah melantunkan bait rindu kepada Sang Kekakasih. Berikut potongan puisinya;
Bekalku memang masih sedikit
Sedang aku belum melihat tujuanku
Apakah aku meratapi nasibku
Karena bekalku yang masih kurang
Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh
Apakah Engkau akan membakarku
O, tujuan hidupku
Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu
Kepada siapa lagi aku mengadu?
Tak akan habis pena untuk mengungkapkan cinta dan rindu seseorang termasuk cintanya Muhammad Luth bin Abdul Malik yang memendam rindunya untuk menemui Sang Khaliknya di Baitullah.

Hampir sembilan tahun ia menunggu dalam waiting list sebagai jamaah calon haji. Bagaimana tidak, tahun 2019 ia masuk kuota sebagai salah satu jamaah yang akan diberangkatkan ke tanah suci untuk menunaikan haji. Tetapi karena pandemi-19 di tahun 2020 melanda dunia keberangkatan jamaah hajipun ditunda hingga dua tahun lamanya.
“Rasa rindu Ka’bah tak mampu lagi kubendung lebih-lebih setelah ditunda keberangkatan kami ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji,” jujur Drs. Muhammad Luth bin H. Abdul Malik kepada insanchannel.com, Sabtu (28/5) usai praktek manasik haji di areal miniatur Ka’bah di Kelurahan Kandai II Kec. Woja Dompu.
Di tengah suasana gelisah dan haru biru perasaan setelah ditunda akibat covid-19 lanjutnya, muncul pertanyaan dalam benaknya, apa yang harus dikerjakan. “Maka lahirlah keinginan untuk menulis Al-Quran dengan tangan sendiri,” ujarnya saat mengisahkan karya Al-Quran tulis tangan itu pertama kali lahir.
Pria yang akrab disapa Papi Luth ini mengakui, sangat besar keinginannya untuk menyelesaikan penulisan Al-Qur’an dengan tangan sendiri. “Akhirnya tulisan Al-Qur’an dengan tulis tangan ini tuntas walaupun dengan sangat sederhana,” tuturnya seraya menambahkan, hasil karya sederhana ini jauh dari kesempurnaan karena ia lahir dari suasana hati yang gelisah.
Muhammad Luth juga mengakui, hasil karya yang tertoreh di atas kertas-kertas tak terpakai ini bahkan bekas RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) ini sengaja ia manfaatkan. “Karena kata Allah; yang Aku (Allah-red) ciptakan tidak ada yang sia-sia,” ungkap pria yang sehari-hari staf pengajar pada MIN (Madrasah Ibdtidaiyah Negeri) Dompu ini. Dan Al-Qur’an tulisan tangan itu dari Surat Al-Fatihah hingga An-Nas kini telah jilid dengan jumlah halaman sekitar 600 halaman folio.

Tertundanya keberangkatan di tahun 2020 mampu ia lewatkan dengan melahirkan karya besar berupa tulisan tangan Al-Qur’an diatas lembaran kertas HVS folio dengan tinta hitam bahkan ada juga yang menggunakan tinta biru. “Tidak sama warna tinta ini karena saat menulis tiba-tiba habis tintanya,” papar alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Mataram (Sekarang UIN Mataram) ini.
Tahun 2021 menjadi tahun yang juga menambahkan kegelisahannya bahkan membuatnya stres. “Tertundanya keberangkatan haji pada tahun kedua (2021-Red), sayapun stress dan terpaksa opname (infus) di rumah sendiri,” tuturnya. Namun ia mampu melewati ujian itu hingga sembuh.
Usai sembuh dari sakit jelasnya lagi, terbayang dirinya melayang-layang bagaikan layang-layang yang mengangkasa di udara. “Maka lahirlah layang-layang seukuran tinggi badan,” paparnya sembari mengatakan, karya layang-layang raksasa ini sebagai upaya untuk menghibur hatinya yang rindu dengan Baitullah. “Layang-layang itu kuabuat jadi penghibur hati yang rindu kepada Baitullah seakan terbang perasaan ini,” ujarnya.
Luth menandaskan, siapapun yang rindu pasti bergumuruh hatinya untuk bertemu dengan yang dirindukan. “Saat bertalbiyah saja aku tak sanggup menahan airmata, mungkinkah ini yang namanya cinta,” tuturnya dengan nada tanya.

Bisa jadi cintanya itu layaknya cinta Rabiah Al-Adawiyah yang tertuang dalam bait syairnya seperti dikutip dari https://dwikisetiyawan.wordpress.com/2011/04/29/puisi-puisi-sufi-rabiah-al-adawiyah/;
“Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalau
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalau ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu”
Kini Drs. Muhammad Luth bin H.Abd. Malik bersama Dra. Mariati binti Hamzah lolos menjadi pasangan yang berangkat haji tahun 2022 M/1443 H bersama 125 jamaah calon haji lainnya yang berasal dari Dompu bergabung dengan jamaah haji asal Sumbawa, Bima dan Kabupaten Bima. Taqdir Allah jemaah haji Dompu tahun ini berangkat haji bersama orang nomor satu di Dompu yakni Kader Jaelani, Bupati Dompu yang berangkat haji sebagai Petugas Haji Daerah (PHD) dengan dokter kloternya, dr. Nur HM. Zain Insan. (nas)











