DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Menyadari ada tantangan era komunikasi dan digitalisasi yang semakin terbuka seperti sekarang, Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darussalam Pekat menginisiasi pelakasanaan Orientasi Jurnalistik bagi para guru. Kegiatan ini disamping memberikan pengenalan tentang dunia jurnalistik juga memberikan pengetahuan dasar tentang tata cara menulis berita, feature dan hal-hal terkait dunia jurnalistik.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 20 sd 21 Nopember 2025 ini merupakan kerjasama Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darussalam Pekat dengan insanchannel.com dibuka langsung Kepala Kantor Kemenag. Kab. Dompu H. Najamuddin, S.Pd, M.Pd di Aula Pondok Pesantren Darussalam.

Kepala Kantor Kemenag. Kab. Dompu H. Najamuddin, S.Pd, M.Pd pada pembukaan kegiatan orientasi menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas inisiasi dari kegiatan ini. “Ini sebagai modal bagi guru dalam mengenal dunia jurnalistik lebih-lebih menghadapi tantangan dunia pendidikan saat ini,” ungkap H. Najamuddin, S.Pd, M.Pd di Aula Yayasan Pondok Pesantren Darussalam Pekat baru-baru ini.
Sebagai salah satu output dari pelaksanaan kegiatan ini insanchannel.com akan merilis beberapa hasil karya dalam bentuk profile feature dan human interest feature yang ditulis oleh Linda Pratiwi dan Rumasih. Berikut tulisannya.

Dari Padang Rumput ke Ruang Kelas (bag. I)
Di balik wibawa seorang pemimpin sekolah, Sahmun menyimpan kisah kesederhanaan. Setiap pulang sekolah ia berjalan ke kandang kecil di belakang rumahnya untuk mengecek dan memberi makan beberapa ekor sapinya.
Menjadi kepala sekolah tidak membuatnya jauh dari tanah dan lumpur. Baginya, menggembala adalah pengingat tentang asal-usul, tentang rezeki yang harus diusahakan, dan tentang rezeki yang harus disyukuri. “Mengurus sapi membuat saya tetap sadar bahwa saya juga manusia biasa,” ucapnya kepada saya dan suami dengan senyum sederhana.
Di sekolah, Sahmun dikenal sebagai pemimpin yang baik, bukan hanya karena kepala sekolah, tapi juga bapak bagi para guru. Ia mendengar keluhan para guru, dan ketika suatu program sekolah tidak berjalan sesuai rencana, ia menanggungnya bersama-sama, bukan menyalahkan. Ketika ada kritik, ia memilih mendengar dengan hati lapang.
Hingga hari ini, Pak Sahmun masih membagi waktunya antara padang rumput, ruang kepala sekolah dan ruang kelas. Dua dunia yang tampak Beda. Namun melebur dalam satu nilai: yaitu pengabdian. Ia menunjukkan bahwa pemimpin tidak selalu harus berdasi, dan menjadi teladan tidak harus memiliki kemewahan. (Linda Pratiwi)

Adab Mengangkat Derajat: Kisah Santriwati Yang Mengalahkan Keterbatasannya (bag.II)
Di sebuah sudut pesantren yang tenang, ada seorang santriwati yang bernama Baiq Nana Elya Zura yang tak pernah di anggap paling pintar, ia selalu belajar lebih lama dari teman-temannya, seringkali mengulang pelajaran berkali-kali, dan tak jarang meneteskan airmata karena sulit memahami materi. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda: Adabnya yang tinggi dan ta’zim yang dalam kepada guru-gurunya.
Ayahnya, Ahmad adalah seorang petani yang setiap hari harus pergi ke sawah. Ibunya bernama Pi’an yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. “Saya tidak pintar, kemampuanku dalam memahami materi sangatlah lambat. Tapi saya tidak pernah berhenti berjuang, mungkin itu saja yang saya punya,” katanya.
Hari demi hari, kesulitan belajar itu tidak menyurutkan langkahnya. Ia selalu menyimak dengan penuh hormat, menundukkan kepala ketika berjalan di hadapan gurunya, dan menjaga setiap nasihat seolah itu adalah cahaya dalam hidupnya.
Ia percaya bahwa keberkahan ilmu datang dari hormat kepada orang-orang yang mengajarkan ilmu itu. Dan perlahan, jalan yang tak pernah ia bayangkan mulai terbuka. Di tengah rasa minder dan keraguan diri, ia terus belajar. Ia sering menulis hafalan ulang di kertas kecil yang kemudian ditempelkan di pintu lemarinya. Namun, saat ia tidak mengerti pelajaran ia datang dengan malu-malu meminta penjelasan ulang tanpa lelah. Para ustadz/ustadzah pun menyayanginya bukan karena pintar, tetapi karena kerendahan hatinya dan menjaga adab.
Dengan kegigihannya dan bimbingan guru-guru serta doa yang tak pernah putus, santriwati sederhana itu kini mendapatkan kesempatan belajar di Universitas Al-Azhar Mesir, tempat impian ribuan pelajar dari berbagai penjuru. Kini di bawah langit Kairo, ia belajar dengan rasa syukur yang dalam, dan akhirnya berdiri di sebuah panggung dunia ilmu yang luar biasa. Ia membawa nama pesantren, keluarga, dan mimpinya sendiri. (Linda Pratiwi)
Dari Anak Petani yang Sederhana (bag. III)
Di sebuah lembaga Pendidikan yang bernama : Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Darussalam Kadindi adalah lembaga Pendidikan pertama yang ada di Desa Kadindi. Lembaga tersebut di pimpin oleh salah seorang yang arif dan bijaksana dari kalangan anak petani kelas bawah, yang kesehariannya dihabiskan di madrasah, bertani sambil ngembala sapi.
Sahmum, S. Pd.I namanya, yang dilahirkan 1 juli 1968, nama ini sudah tidak asing lagi di sebagian masyarakat Desa Kadindi. Ia mendapatkan banyak pujian karena kesuksesannya memimpin madrasah tersebut. Kini ia dipercaya sebagai Ketua Yayasan sekaligus Kepala MTs (Madrasah Tsanawiyah-Red) Darussalam Kadindi.
Kegigihan dan ketegasannya menjadikan madrasah yang dipimpinnya berdiri dan berkembang maju saat ini. Di usia yang sudah lanjut ini, ia memberi cermin tentang semangat yang tinggi dalam mengabdi di madrasah, meski ia harus ngembala sapi dan bertani usai pulang dari madrasah.
Ia memimpin dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik, terlihat dari semangat dan tekad yang kuat dan berani menjadi contoh bagi para guru baik bapak maupun ibu guru di madrasah teesebut. (Rumasih)
Latif, Menjadi Tulang Punggung Ibunya (bag. IV)
Latif adalah anak yatim dari 5 bersaudara, ia adalah anak bungsu dan rajin sekolah memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Ia memang kelihatan berbeda dari siswa-siswi yang lainnya. Dari kesederhanaan saat ia menggunakan seragam sekolah yang kusut yang nyaris tanpa disetrika bahkan agak sedikit sobek di bagian celananya.
Sesekali ia tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Ketika Kepala madrasah menanyakan keberadaan Latif; “Kenapa Latif sering tidak masuk sekolah”. Rekan sekelasnya hanya terdiam, tidak mampu memberi jawaban tentang keberadaannya Latif.
Keesokan harinya ia masuk dan ditanya kepala sekolah, kenapa akhir-akhir ini sering tidak masuk sekolah? Latif menjawab saya kerja pak, tebang tebu untuk membantu kebutuhan ibunya. Guru-gurupun baru sadar, ternyata Latif sudah menjadi kuli padahal ia masih menjadi salah seoarang siswa di madrasah ini tepatnya di kelas sebelas.
Latif adalah siswa yang pekerja keras dan tidak pernah gengsi dalam apapun apalagi masalah pekerjaan yang ia bisa kerjakan. Terkadang ia terlihat minder dari teman-temanya yang lain namun guru berusaha memotivasi dan memberi semangat untuk belajar.
Dibalik senyumnya yang lembut tersimpan banyak beban yang ia harus tanggung sendiri. Namun Latif yang ditinggal mati oleh sang ayah setahun lalu ini tetap berjuang antara belajar dan mengabdi untuk sang bunda tercinta. Dua pilihan yang harus ia jalani meski beban itu terlalu berat. Ia pandang masa depan terbersit secrcah harapan bahwa pengabdian pada adalah bagian yang tak boleh dilepas meski sebagai seorang pelajar. (Rumasih) (01/ic)











