Derai air mata wanita paruh baya berinisial Kl (40) tak mampu lagi ia tahan. Semakin ia seka, air matanya terus saja mengalir merembesi pori-pori kulit wajah yang masih tampak ayu dan cantik ini. Sesekali ia menunduk dan mencoba menghapus memori duka yang bergelayut dalam batinnya.
Bagaimana tidak ditengah perjuangannya untuk menyembuhkan si buah hati yang menderita sakit, suaminya kawin lagi. “Dia kawin saat saya mengantar si bungsu untuk berobat ke kampung halaman saya,” tuturnya ambil menyeka air mata membasahi wajahnya.
Hati Kl hancur layaknya sudah jatuh ketimpa tangga pula. Dikala ia tertatih-tatih berusaha untuk menyembuhkan si buah hatinya yang sudah berusia dua tahun lebih namun belum juga bisa duduk layaknya bayi normal lain. “Apa salah saya, kok saya diginiin,” sesalnya.
Wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di lembaga pendidikan di Dompu ini hanya bisa pasrah. Karena saat ia menanyakan kebenaran isu perkawinannya dengan wanita idaman lain (WIL) kepada suaminya tapi suaminya mengelak, padahal ditengah masyarakat sudah santer bahwa suaminya sudah kawin lagi. “Dia (suaminya-red) hanya diam ketika saya tanya kebenaran berita itu,” tuturnya.
Sambil memperbaiki jilbab yang dikenakan nya, Kl mengakui akan berusaha tegar merawat si bungsu sekuat tenaga dan berusaha menyembunyikan kepedihan dihadapan putri sulungnya yang masih tetap di rumah karena saat ini masih kuliah daring (online). “Satu saya sesali, saat saya berusaha mengantar anak berobat kok tega kawin lagi,” sesal.**
Kisah yang sama juga dirasakan oleh Pr yang juga berusaha bangkit dengan sejuta harapan untuk membesarkan dan mendidik putra-putrinya. “Saya ditikam dari belakang oleh dia (WIL suaminya-red),” ujar Pr (43) kepada Insan channel.com di Dompu saat disebut indahnya kebersamaan dalam satu atap rumah tangga yang dihuni oleh dua perempuan.
Wanita yang masih tampak ayu dan cantik ini berubah air mukanya mendengar suara tangis buah hatinya saat bermain di halaman rumahnya. Lalu buru-buru menggendong putri bungsunya yang dalam keadaan sakit dengan kondisi tubuhnya kurus sementara perutnya terus membuncit.
“Kata dokter anak saya ini harus dioperasi di luar daerah,” jujurnya sambil mengelus kepala dan bahu putrinya yang kala itu dipangkunya. Kondisi putri yang dipangkunya yang belum normal dan belum bisa berjalan padahal usianya sudah tujuh tahun ini seakan memberikan gambaran tentang kepedihan hati ibunda yang belum juga terobati.
Pr mengaku ditikam dari belakang karena saat ia pergi melahirkan putrinya ini di kampung, suaminya kawin lagi dengan wanita idaman lain (WIL) sekaligus wanita yang mengabdikan diri di lembaga pendidikan yang dimiliki suaminya.
Ibarat nasi sudah jadi bubur Pr menjalani hari-harinya untuk tetap tegar untuk hidup berdampingan dalam satu atap lembaga pendidikan yang dipimpin suaminya. Satu hati dalam dua cinta. Semoga dengan kasus yang terjadi pada keluarga Kl dan Pr di atas kiranya menjadi buah renungan bahwa hidup ini adalah cobaan. Moga Allah melimpahkan rahmat-Nya buat kita semua terutama pembaca tentunya. Aamiin ya rabbal alamiin. (nas)











