“Rak’atal Fajri Khairum minad dunya wamaa fiiha.” Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan isinya.
Betapa dalam makna

di balik sepenggal kalimat yang diucapkan Rasulullah saw ini. Beliau tidak mengatakan “salat fajar”, tapi “dua rakaat fajar”. Dengan menyebut angka rendah ini, beliau menyiratkan pesan betapa kecil dan ringan ibadah salat fajar itu.
Beliau tidak mengatakan “setara dengan dunia dan isinya”, tapi “lebih baik dari dunia dan isinya”. Dengan diksi ini, beliau menyiratkan pesan betapa besar pahala amalan ini. Setara dengan dunia seisinya saja sudah berarti begitu luar biasa besar dan banyaknya, apalagi lebih baik dari dunia dan isinya.
Beliau menggambarkan agungnya pahala amalan salat fajar dengan sesuatu yang dinamis namun tetap terjaga gambaran besar dan banyaknya. Dunia berubah dari zaman ke zaman. Gambaran dunia dan isinya dalam benak manusia berbeda-beda pula dari zaman ke zaman. Kendati demikian, gambaran keagungan ibadah salat fajar tetap terjaga. Karena tiap orang dari segala zaman punya bayangan tentang dunia dan isinya, dan salat fajar lebih baik dari apa yang mereka tahu atau bayangkan tentang dunia dan isinya.
Andai, misalnya, beliau menggambarkan pahala salat fajar itu “lebih baik dari seribu ekor unta”, maka akan hilang atau setidaknya berkuranglah gambaran keagungan pahalanya, di benak anak zaman yang tidak mengenal unta.
Tentang salat fajar yang pahalanya begitu besar ini, Rasulullah tidak hanya mengirimi kita pesan betapa ringan dan mudahnya ibadah ini dilakukan, tapi juga betapa semangatnya beliau melakukannya. Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah terlihat sangat bersemangat melaksanakan salat fajar, melebihi salat- salat sunnah lainnya.
Selain itu, beliau saw juga mengirimi kita pesan bahwa salat fajar itu adalah amalan ringan yang tidak memakan banyak waktu. Aisyah r.a. menggambarkan bahwa Rasulullah melakukan salat fajar dengan singkat. Saking singkatnya, sampai-sampai Aisyah berpikir jangan-jangan beliau tidak sempat membaca surah Al-fatihah.
Jadi, dengan apa yang dikatakan dan dilakukannnya, Rasulullah mengirimkan pesan kepada kita bahwa salat fajar itu amalan yang begitu ringan namun pahalanya begitu besar. Amalan yang beliau kerjakan dengan penuh semangat namun dalam waktu yang singkat.
Beliau seakan menyadarkan kita: kalian tahu salat fajar itu sangat ringan dan singkat tapi pahalanya melebihi dunia seisinya, dan kalian juga tahu aku bersemangat melakukannya, lalu apa yang membuat kalian ummatku tidak semangat melakukan salat fajar?
Akhirnya, masalah kita dengan salat fajar bukan lagi soal kita melakukannya atau tidak, tapi soal kita melakukannya dengan semangat atau tidak. Wallahu A’lam…
*Penulis adalah Dosen Tetap Pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya










