Sebelum kita menulis dan men-share apa pun, mari menghela napas sejenak dan membayangkan bahwa yang kita tulis di dunia saat ini kelak akan kita baca di akhirat nanti. Saat itu, tiap kata yang kita tulis akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ia akan dinilai dalam timbangan amal kita, untuk menentukan apakah kita termasuk orang yang selemat atau celaka.

Saat kita sudah tiada, apa yg kita tulis akan tetap ada dan abadi. Maka, jangan pernah kita menulis kecuali yang akan membuat kita bangga saat itu ditunjukkan kepada kita kelak di hari ketika semua amalan dipertanggungjawabkan.
Mari membayangkan ketika setiap kata yang saat di dunia ini kita share untuk menyerang, menghina, dan mencela orang lain, diperlihatkan kepada kita di akhirat nanti. Kalau itu akan membuat kita malu dan menyesal, mari kita berhenti melakukannya mulai sekarang.
Mari bayangkan ketika kata-kata hinaan, cacian, dan fitnah yang pernah kita share di dunia ini menyebar dan terus menyebar saat kita telah tiada. Ia bergulir tanpa putus sampai terbaca oleh orang-orang yang tidak terbayang oleh kita jumlahnya. Bayangkan bahwa kita akan menanggung dosanya sebanyak orang yang membaca dan meng-copasnya. Kalau itu membuat kita takut, maka berhentilah mulai sekarang.
Mari kita bayangkan juga, kata-kata negatif itu kemudian menggiring pembacanya untuk ikut berpikir dan bertindak negatif seperti kita. Karena tulisan kita, dada dan kepalanya terisi oleh pikiran dan perasaan yang negatif. Ia kemudian ikut membenci apa yang sebelumnya tidak ia benci. Bahkan, ia kemudian menularkan pikiran negatif yang sama kepada orang lain, yang kemudian meneruskannya lagi kepada orang lain, dan seterusnya… Bayangkan, seperti itu pulalah menjalar dan berantainya dosa yang harus kita tanggung di akhirat kelak. Jika itu membuat kita takut, maka mari segera berhenti. Mari berhenti menulis dengan niat dan tujuan buruk.
Sebaliknya, mari bayangkan sepotong kalimat berupa nasihat dan motivasi kebaikan yang kita tulis di dunia ini diperlihatkan kepada kita di akhirat kelak. Di hadapan pengadilan akhirat kita membacanya dengan wajah sumringah. Kalau kita membayangkan itu akan membuat kita tersanjung, mari manfaatkan HP dan laptop kita untuk sebanyak mungkin menulis dan menyebarkan hal serupa untuk dibaca orang.
Mari membayangkan ketika di akhirat nanti kita dapati bahwa nasihat dan kata-kata baik kita itu terus bergulir dan dibaca oleh begitu banyak orang. Dan sebanyak itu pula pahala yang terus mengalir dan dilipatgandakan untuk kita. Kalau dalam bayangan kita itu akan membuat kita bahagia, maka teruslah kita menyebar kata-kata baik melalui tulisan kita.
Mari kita bayangkan pula, nasihat dan motivasi baik kita itu kemudian mempengaruhi pikiran dan prilaku pembacanya. Ia mengisi pikiran mereka dengan informasi dan ilmu yang positif. Ia kemudian mengubah mereka menjadi pribadi dengan pikiran dan sikap yang positif. Lalu mereka menularkannya kepada orang lain, yang kemudian juga menularkannya ke yang lain, dan seterusnya… Bayangkan, seperti itulah menjalar dan berlipatbanyaknya ganjaran pahala yang kita peroleh. Jika itu yang kita impikan, mari memperbanyak menulis dan men-share kebaikan.
Di akhirat kelak, kita adalah pewaris tunggal royalti dari tiap kata yang kita tulis di dunia ini. Jika itu adalah kebaikan, kita menikmati limpahan pahalanya. Sebaliknya, jika itu hinaan, umpatan, fitnah, atau kata buruk lainnya, bersiaplah kita menanggung balasannya berupa siksaan dan azab yang pedih. WALLAHU A’LAM.
* (Penulis adalah dosesn tetap Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya)









