BIMA, INSANCHANNEL.COM – Pagi buta itu, burung-burung yang bertengger diatas pepohonan belum beranjak dari peraduannya. Demikian juga dengan segerombolan anak-anak remaja yang memilih malam weekend mereka berada di bibir pantai indah nan eskotis ini untuk berkemah. Namun beberapa diantara mereka lebih memilih menyambut subuh itu dengan berdisko ria dan ada juga yang memilih untuk menyiapkan kamera handphone untuk menyambut rona subuh yang terus beranjak ke pagi hari.
“Kita memanfaatkan malam minggu ini untuk menggapai harapan baru di pantai Lariti,” ungkap Sohibul Haq, salah seorang pengunjung saat menunggu sunrise di Pantai Lariti Sape Bima, kepada insanchannel.com, Ahad (22/5/2022).

Bagi Sohibul Haq berserta rekan-rekan seusianya, menyambut mentari pagi di pantai dengan pesonanya ini tidak membuatnya bosan. “Justeru dari sini kita digoda untuk dapat menikmati udara pantai dan pemandangan yang indah,” ujar remaja yang masih duduk di salah satu SMA di Sape Bima ini di detik-detik mentari di ufuk timur belum menampak wajah indahnya.
Seiring dengan perjalanan waktu, satu dua kendaraan roda empat dan roda dua memasuki areal pasir putih pantai yang berada di ujung timur kabupaten Bima ini. Mereka datang seakan ingin menyapa paginya menyambut harapan dan keberkahan harinya dengan sunrice di pantai Lariti. Seisi alama seakan ingin menyapa pagi mereka dengan untai kata indah menyambut pagi mereka dengan harapan yang indah tentunya. Tepat pukul 06.10 pagi Ahad itu, dengan warna rona merah dan orange indah terpancar dari dari langit. Ia berasal dari sebaran sinar matahari oleh partikel-partikel kecil, senyawa padat lainnya, dan unsur-unsur cair di atmosfer bumi.

“Amaizing…luar biasa indah indahnya sunrise ini,” ujar salah sorang pengunjung saat menatap detik-detik munculnya mentari ufuk timur di selat Sape Kab. Bima. Makhluk bumi yang mendiami teluk pagi itu seakan ini menyambut indahnya rona sunrise terpancar pagi itu dengan harapan baru. “Kendati kita datang belum dapat melihat laut terbelah tapi sunrice pagi ini betul-betul indah,” tutur Hj. Aminah, pengunjung asal Dompu yang sengaja menikmati sunrise di pantai Lariti itu.
Maka ada yang bilang bahwa saat matahari terbit, untaian harapan akan tersua di saat seseorang menyambut dengan kehangatan. Dan keindahan dari sunrise yang terpancar dari warna yang orange pertanda bahwa kehidupan mulai bangkit. “Dan setiap matahari terbit memberikan kita satu hari lagi untuk menggapai harapan,” katanya.
Bagi para pengunjung ke Pantai Lariti tidak hanya memburu sunrice tetapi laut yang terbelah menjadi pemandangan unik di pantai ini. Hanya saja moment-moment indah itu akan dapat diraih manakala ada kesabaran menunggu moment indah itu baik sunrice maupun laut terbelah. “Sunrice bisa dinikmati apabila subuh sudah ada dipantai ini,” ujar salah seorang warga Lariti seraya menambahkan, jika ingin menikmati laut terbelah harus sabar menunggu kapan air lautnya surut.

“Saat laut terbelah kita bisa jalan kaki menuju Nisa Halimah atau Nisa Lampajara,” kata Abdul Awan, salah seorang pemilik warung makan di pantai Lariti seraya mengakui, penamaan itu tentu punya kisah khusus seperti kisah terbelahnya laut ketika Nabi Musa As dikejar oleh Fir’aun bersama pasukannya. “Itulah yang diceritakan orang-orang tua kita dulu tentang Lariti ini,” tambahnya lagi.
Tanjung yang oleh penduduk setempat menyebut Nisa Halimah merupakan salah satu pulau dari deretan pulau kecil yang ada di pantai Lariti. Dan dari kejauhan juga tampak pulau kecil nan indah bernama Nisa Kari’i. “Dan ada juga So Naga juga tempat yang dikunjungi oleh orang dari luar NTB,” ujar Abdul Awan sambil menyapu sampah disekitar usahanya.
Tidak itu saja antara Nisa Halimah dan Nisa Kari’I ada juga wadu Duha Kalano. “Duha Kalano ini juga punya kisah,” akui salah seorang nelayan yang sedang memperbaiki jaring-jaring untuk mengumpulkan lumut laut. Dan sisi barat dari Nisa Kari’I kata nelayan ini juga terdapat Toro Naga atau wadu Naga. “Di Wadu Naga ini juga banyak orang luar yang berkunjung kesana,” ujar Abdul Awan lagi. (nas)











