Dalam hal mendidik anak, ada istilah quality time. Bahwa mendidik anak tak harus 24 jam bersamanya. Beberapa jam saja sudah cukup. Yang penting dalam waktu yang sedikit itu kebutuhan fisik dan non-fisik anak benar-benar terpenuhi secara maksimal. Prinsip ini umumnya dipegang oleh perempuan karir dalam mengasuh anaknya.
Dalam skala yang lebih luas, ada istilah quality age. Bahwa umur itu yang penting bukan kuantitasnya atau bilangan tahunnya, tapi kualiatasnya atau semaksimal apa umur itu diisi dengan kebaikan. Inilah yang disampaikan khotib jum’at masjid At-Taqwa di bandar udara Juanda Surabaya siang hari ini.
Menurut beliau, seorang hamba tak akan tahu berapa jatah umurnya di dunia. Ia tidak tahu dan tak diberi tahu kapan ajal menjemputnya. Maka agar umurnya berkualitas, ia harus seperti dikejar waktu mengisinya dengan kebaikan. Umur yang diisi kebaikan inilah yang dalam bahasa agama disebut umur yang barokah.
Umur yang barokah tidak harus panjang. Umur yang pendek pun adalah barokah kalau sarat dengan kebaikan. Tentu yang ideal adalah umur panjang dan diisi secara maksimal dengan kebaikan. Seperti itulah Rasulullah memberi patokan baik buruknya umur seseorang. Manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sebaliknya, manusia terburuk adalah yang panjang umurnya tapi buruk amalannya.
Tidak sedikit manusia yang meninggal dalam kondisi belum sempat memaksimalkan umurnya selama di dunia. Al-Qur’an kemudian mengabadikan penyesalan mereka karena telah menyia-nyiakan umur mereka serta permohonan sia-sia mereka untuk dikembalikan lagi ke dunia untuk mongoreksi amalan mereka. “Mereka berteriak menghiba dalam neraka ‘Tuhan, keluarkan kami dari sini. Kami akan berbuat tidak seperti yang dulu kami perbuat’.” (Q.S. Fathir: 37).
Secara khusus, amalan yang banyak dilalaikan manusia saat hidupnya dan disesalinya setelah kematiannya adalah bersedekah. Maka ketika ajalnya tiba dan dia diperlihatkan betapa ruginya ia karena tidak bersedekah, ia minta kematiannya ditunda barang sejenak untuk ia maksimalkan dengan bersedekah. “Tuhanku, andai Engkau tunda sejenak ajalku, aku akan bersedekah dan menjadi orang saleh.” (Q.S. Al-Munafiqun:10).
Kalau umur adalah kualitas dan bukan kuantitas, maka yang lebih utama untuk kita minta kepada Allah bukan umur panjang, tapi umur yang barokah. Kita meminta agar kita dituntun untuk secara maksimal mengisi jatah umur yang yang telah ditentukan-Nya dengan sebanyak mungkin kebaikan.
Oleh karena itu, berharap umur panjang dan ingin terus hidup tapi tidak dibarengi dengan amal saleh adalah sikap yang salah. Ini tentu motifnya hanya semata-mata karena cinta dunia. Harapan dan keinginan seperti hanyalah milik orang-orang yang salah jalan di dunia. Umur panjang yang mereka inginkan, andaikan terpenuhi, tak akan menyelamatkan mereka dari azab Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Baqarah: 96: “Masing-masing mereka berharap diberi umur seribu tahun. Padahal itu takan akan menyelamatkan mereka dari azab Allah.”
Wallahu A’lam
* Penulis adalah Dosen Tetap Pada Fakultasn Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya,











