Rumput dan semak-semak adalah contoh sempurna tentang kepercayaan dan ketawakalan makhluk kepada Sang Khalik. Rumput dan semak-semak juga bisa menjadi tolak ukur kepercayaan makhluk lain terhadap manusia.

Itulah yang berkelabat dalam obrolan saya dengan seorang sahabat pagi ini. Dia sahabat karib sejak SMA. Tidak seperti saya yang tinggal di tanah rantau, dia tetap setia tinggal di tanah kelahiran kami: Bima.
Pagi ini, tiba-tiba saja saya ingin meneleponnya. Ketika nyambung, kami langsung terlibat obrolan seru. Yang kami bahas adalah hujan yang dalam beberapa tahun terakhir ini semakin identik dengan bencana alam di daerah kami.
Sahabat saya yang rumahnya kebetulan di bibir sungai ini melihat bahwa persepsi orang kami sudah berubah tentang hujan. Dulu, hujan adalah aba-aba dimulainya kegiatan cocok tanam dan panen buah-buahan tertentu seperti Srikaya. Sekarang sudah berubah. Memang orang tetap menyambut hujan dengan bercocok tanam, si ‘sri’ juga tetap kaya dan setia turun memenuhi pasar di kala musim hujan. Tetapi, selain itu semua, hujan juga menjadi alarm akan datangnya banjir, tanah longsor dan rusaknya jembatan-jembatan.
“Hujan saat ini lebih sering membawa bencana,” begitu sahabat saya ini mengungkapkan rasa prihatinnya. “Padahal,” lanjutnya, “air hujan itu rahmat dari langit untuk penduduk bumi, mestinya tidak membawa bencana.” Ia yang bersama istrinya punya usaha budidaya tanaman hias ini lantas mencontohkan betapa berkahnya air hujan.
“Di musim kemarau,” katanya, “walaupun saya menyirami taman bunga saya sepanjang hari, sampai tanahnya selalu basah dan lembab, tapi tidak ada rumput dan semak yang tumbuh. Tapi sekali saja hujan turun, rumput dan semak kompak berlomba menyembul tumbuh dan bersemi.”
Kami kemudian menyimpulkan, berarti rumput dan semak-semak itu tahu betul mana air dari langit dan mana air dari sumur atau kran manusia. Ketika mereka memutuskan tumbuh saat yang menyiraminya itu adalah air dari langit, berarti itu bentuk kepercayaan dan ketawakalan mereka kepada langit. Karena keyakinan itu, mereka tak perlu menunggu hujan kedua untuk memutuskan tumbuh dan bersemi.
Sebaliknya, ketika rumput dan semak itu menolak tumbuh oleh siraman manusia, itu berarti bentuk ketidakpercayaan mereka kepada manusia. Mereka sepakat gak mau bersemi walaupun tanah tempat mereka sembunyi basah dan lembab. Seakan mereka punya keyakinan, air dari tangan manusia itu penuh pamrih. Manusia menyiram mereka hanya saat sempat dan ada maunya saja. Jadi, siraman manusia sama sekali tidak bisa diandalkan untuk bekal tumbuh dan hidup di bumi.
Kayaknya, rumput dan semak-semak itu benar juga. Kita manusia mungkin memang layak mendapat mosi tidak percaya dari mereka. Bagaimana tidak, pohon-pohon besar dan hutan lebat yang telah berpuluh bahkan beratus tahun setia menjaga kehidupan saja kadang dirusak dan disia-siakan oleh kita manusia, apalagi sekelas rumput dan semak-semak yang tumbuh hanya untuk dimakan hewan ternak. Wallahu a’lam.
*Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya








