SORE itu, rumah sakit seperti menahan napasnya sendiri. Udara di dalamnya dingin dan tipis, membawa aroma obat yang samar bercampur dengan kesunyian yang enggan pecah. Di luar jendela, cahaya matahari meredup perlahan-menetes di lantai ubin seperti sisa waktu yang ikut menyusut. Dan diantara segala ketenangan itu, aku tahu: sesuatu sedang perlahan pergi dari hidupku.
Dari sore hingga malam, kami semua tahu- mungkin, inilah hari terakhir nenek berjuang melawan waktunya. Kadang napasnya melambat, lalu tiba-tiba membaik, membuat kami menaruh harapan yang terus terombang-ambing di antara pasrah dan doa. Di sekelilingnya, anak-anaknya bergantian duduk, berzikir pelan, sementara beberapa cucu dan keluarga lainnya bercengkerama, juga ada yang memandangi wajahnya yang masih memberi ketenangan meski tubuhnya hampir tak bergerak. Semuanya terasa seperti terang yang menurun perlahan, bukan padam tiba-tiba — layaknya keindahan yang hening antara hidup dan perpisahan.
Di tengah kesunyian ruangan itu, aku memandangi wajah yang sejak kecil begitu kukenal: wajah Nenek Umi Ija. Itulah panggilan untuk nenekku — Hj. Khadijah binti Idi, perempuan yang selama hidupnya menjadi pusat keteduhan dalam keluarga kami. Di balik tubuh renta yang kini terbaring lemah, tersimpan kisah panjang tentang kesabaran yang tak bertepi. Beliau bukan hanya seorang ibu dari sepuluh orang anak, tapi juga rumah bagi seluruh cucu hingga cicitnya yang mencari pelukan dan nasihat.
Nenek Umi Ija pernah hidup berdampingan dengan Tua Aji H. Syamsuddin bin Insan, suaminya yang dikenal tegas dan teguh pendirian. Kakek sudah lebih dulu berpulang, namun bayang sikapnya masih melekat di ingatan kami. Di antara ketegasan Tua Aji Syamsuddin, Nenek Umi Ija hadir sebagai keseimbangan-lembut dan penuh kasih. Beliau mampu menenangkan amarah dengan satu kalimat yang pelan, meredam keresahan dengan senyum yang hampir tak terlihat namun selalu menenangkan. Perpaduan keduanya seperti matahari dan teduhnya bayang pohon — saling melengkapi tanpa saling menenggelamkan.
Dalam kenangan, aku masih tertawa mengingat kebiasaan Tua Aji Syamsuddin yang gemar mengikuti apa pun yang dilakukan anak dan cucunya. Beliau sering ikut memakan makanan ringan khas anak kecil, bahkan iseng meminum minuman energi dengan semangat yang lucu bagi seusianya. Saat Nenek Umi Ija melihatnya, beliau kerap menegur dengan nada lembut yang sedikit menyindir, “udah tua kok masih aja mau makan minum yang seperti itu.” Nada suaranya tidak benar-benar kesal justru di balik kalimat itu selalu ada senyum kecil yang menandakan kasih. Beliau seolah mengabaikan, tapi dari matanya terlihat jelas: ia tetap memperhatikan dengan penuh cinta.
Aku masih ingat bagaimana tutur katanya begitu halus, bahkan ketika menegur. Tidak pernah sekalipun aku mendengar nada keras dari lisannya. Kepada anak-anaknya, bahkan kepada cucu hingga cicitnya yang paling kecil sekalipun, suaranya selalu lembut. Bahkan kepada Umi — ibuku — beliau masih menjaga tutur katanya dengan hormat. Padahal beliau adalah orang tua, namun selalu berbicara penuh kehati-hatian, seolah takut melukai siapa pun dengan kata-katanya. Kelembutan itu membuatku segan, bukan karena takut, tapi karena hormat yang tumbuh dari ketulusan.
Aku juga masih menyimpan satu kenangan yang selalu terasa hangat setiap kali teringat — sebuah momen setelah Lebaran, di tahun ketika dunia sedang dihantui pandemi COVID-19. Saat itu, kami sekeluarga pergi ke Kempo untuk bersilaturahim dengan nenek dan keluarga besar. Hari itu rumah Ua Umi Tia terasa hidup. Di antara tawa dan suara anak-anak, nenek duduk di kursinya — sederhana, tapi menjadi pusat perhatian bagi siapa pun yang datang. Wajahnya tampak tenang, matanya menatap siapa saja yang mendekat dengan pandangan penuh kasih. Satu per satu kami menyalami beliau. Saat tiba giliran Aji — ayahku — ia tampak ragu sejenak namun dengan sigap, ia segera melapisi tangannya menggunakan sorban sebelum menyalami nenek, lalu mencium tangannya pelan. Kami yang melihat hanya bisa saling pandang dan tersenyum kecil memahami maksudnya.
Di balik sorban yang dilapiskannya, Aji sebenarnya sedang menahan gelombang batin yang sulit dijelaskan. Aji sedang berperang antara rindu yang ingin ia tunjukkan dan rasa takut yang ingin ia sembunyikan. antara takut mencelakakan, dan keinginan untuk mencium tangan yang selama ini menjadi sumber berkah kehidupan. Itulah caranya menunjukkan cinta, dalam bentuk yang mungkin terlihat canggung, tapi lahir dari rasa sayang yang dalam.
Yang membuatku tersentuh adalah bagaimana nenek menanggapinya. Beliau tidak menampakkan reaksi apa pun yang berlebihan. Tidak bertanya, tidak menegur juga tidak tertawa. Hanya tersenyum tipis dengan mata yang tetap lembut memandang anaknya. Dalam senyum yang sederhana itu, terasa ketulusan seorang ibu yang mampu memahami tanpa harus banyak bicara. Dan di situ aku belajar sesuatu bahwa kasih seorang ibu tidak selalu dinyatakan lewat pelukan atau kata-kata. Kadang, ia hadir dalam bentuk penerimaan yang hening — penerimaan yang membuat siapa pun merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, bahkan ketika cara mereka mencinta tampak canggung di mata orang lain.
Waktu berjalan, tapi kenangan tentang beliau seperti enggan pergi. Setiap ingatan kecil — senyum yang lembut, tutur kata yang halus, bahkan teguran pelan kepada Tua Aji — seolah hidup kembali setiap kali aku merindukannya. Namun sore itu, di rumah sakit, semua kenangan itu terasa menunduk di sudut pikiranku, seakan tahu bahwa saatnya telah tiba bagi kami untuk benar-benar belajar melepaskan.
Udara malam seolah merayap bukan dari jendela, melainkan dari hembusan dingin mesin pendingin. Lampu ruangan berpendar lembut, memantul di wajah nenek yang tampak semakin tenang. Setiap helaan napasnya terasa berharga. Ada rasa yang sulit kuterjemahkan malam itu — antara ingin tinggal lebih lama, dan tahu bahwa setiap detik yang tersisa hanyalah milik Tuhan. Dalam diam, aku tahu, mungkin sebentar lagi tak ada lagi yang tersisa selain kenangan.
Dan dalam setiap kenangan itu, bayangan Nenek Umi Ija selalu hadir dengan penutup kepala khasnya, senyumnya yang sederhana, juga tutur katanya yang lembut — seakan seluruh kesabarannya kini sedang berbaring di hadapanku, menanti untuk pulang.
Aku tidak berpamitan. Tangannya yang dulu menggenggam kehidupan kini hanya kutatap dari jauh — jarak yang bahkan doa pun sulit menjangkaunya. Aku hanya berdiri agak jauh, menatap dari sudut ruangan, menyaksikan hembusan napasnya yang tersisa, lalu memutuskan pulang ketika malam semakin larut. Di rumah sakit itu masih banyak yang menunggu — sepuluh anaknya yang bergantian menjaga, beberapa cucu serta keluarga besar yang cemas menanti kabar. Aku pergi tanpa berkata apa pun pada nenek. Tanpa bisikan lembut di telinganya, tanpa pesan terakhir yang bisa kubawa untuk menenangkan diri.
Entah mengapa, langkah kakiku terasa berat malam itu. Aku menatap sekali lagi ke arah ranjangnya dari pintu ruangan, berusaha menanamkan wajahnya dalam ingatan. Tapi wajah itu seperti dilapisi waktu, perlahan menjauh, hingga akhirnya hanya tersisa hembusan napas yang keluar dari mulutnya — pelan, tapi masih ada. Itu adalah pandangan terakhirku padanya. Beberapa jam setelah aku tiba di rumah, aku sempat terlelap — barangkali tubuhku terlalu letih menahan cemas. Saat terbangun, suara langkah kaki Aji dan Umi terdengar dari depan rumah. Dari bibir Umi, kabar itu akhirnya jatuh pelan, namun menancap dalam: “Nenek telah tiada.”
Dunia seakan berhenti. Aku hanya diam, menatap lantai yang tiba-tiba terasa jauh di bawah kakiku. Ada bagian dalam diriku yang runtuh perlahan tanpa suara. Air mata turun begitu saja tanpa sempat kutahan. Aku tidak ada di sana saat napas terakhirnya pergi. Aku tidak sempat menggenggam tangannya, tidak sempat membisikkan kata perpisahan yang mungkin bisa membuatku lebih tenang sekarang. Yang tersisa hanyalah keheningan, dan penyesalan yang menggantung seperti kabut di dada.
Jenazah nenek dibawa pulang ke Kempo pagi itu juga. Rumah Ua Umi Tia yang kerap jadi tempat berkumpulnya sanak saudara kini kembali menjadi tempat istirahat terakhirnya sebelum dikuburkan. Aku ikut ke sana pagi harinya, ketika matahari baru naik di ufuk timur. Di halaman rumah, banyak orang berdatangan — tetangga, keluarga jauh, sahabat lama. Di tengah keramaian itu, aku berdiri menatap wajah nenek yang kini sudah benar-benar tenang. Tak ada lagi alat medis, tak ada lagi suara mesin atau oksigen. Hanya wajah damai yang seolah berkata: “Sudah cukup, Nak. Aku sudah pulang.”
Saat jenazahnya diangkat menuju masjid untuk dishalatkan, aku berada di antara mereka yang memikul keranda. Rasanya seperti mimpi aneh. Tangan yang semalam tak sempat menggenggamnya, kini justru ikut mengantarnya ke rumah terakhir. Di setiap langkah, dadaku bergetar — bukan karena lelah, tapi karena perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah beban tandu itu bukan hanya tubuh nenek, tapi juga kenangan, cinta, dan penyesalan yang kini harus kupikul sendiri. Seusai dishalatkan, jenazah nenek dibawa menuju pemakaman. Doa mengalun lembut di udara. Langit tampak cerah siang itu. Aku berdiri agak jauh dari liang kubur, menatap tanah yang perlahan menutup tubuhnya. Di saat itu aku tahu, kisah nenekku telah sampai di titik terakhirnya di dunia meskipun tidak di hatiku.
Di hari itu juga seusai prosesi pemakaman, meski kami sudah bisa tersenyum lagi karena dapat bertukar gurauan dan candaan, aku seperti mendengar suara Nenek Umi Ija di sela-sela gelak tawa cucu dan cicitnya. Mungkin bukan suara sungguhan, tapi kenangan yang menolak pergi. Ia hidup dalam setiap cerita yang ditinggalkannya — tentang perempuan yang mampu membesarkan sepuluh anak dengan kasih tanpa batas, tentang kesabaran yang menjadi pelindung di tengah kekurangan. Aku sering menyesali hal-hal kecil yang tidak sempat kulakukan malam itu — mencium tangannya atau kembali berbisik memperkenalkan diri seperti biasanya. Tapi mungkin, nenek sudah memaafkan bahkan sebelum aku menyesal. Karena begitulah caranya mencintai: diam, tapi selalu memaafkan. Kini, aku hanya bisa mengirim doa, berharap setiap kalimatku yang tak sempat terucap malam itu sampai padanya dalam bentuk yang lebih lembut — melalui malaikat, melalui angin, atau mungkin melalui kedamaian yang kini sudah beliau rasakan di sisi-Nya.
Mungkin begitulah sisa cahaya itu — tidak benar-benar padam, hanya berpindah tempat: dari pelukan nenek, ke doa-doa yang tak henti kupanjatkan. Allahumaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa. Nenek, semoga engkau tenang di rumah keabadian.
(Ahmad Syauqy Alfan/Dompu, 25 Oktober 2025)










