DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Gubernur NTB, Dr. Zulkifliemansyah, SE., M.Sc menandaskan, industrialisasi itu sesungguhnya sederhana. Saking sederhananya cenderung dilupakan. Jadi instrialisasi itu buka teori gubernur, bukan teori pemerintah propinsi tapi itu keniscayaan dan kebutuhan. Karena tidak mungkin satu negara atau daerah mencicipi kemakmuran dan kesejahteraan tanpa indutrialisasi.

“Kalau ditanya kenapa NTB tetap miskin, Dompu tetap miskin karena kita tidak pernah melakukan industrialisasi secara serius,” ungkap Dr. Zulkifliemansyah, SE., M.Sc, Gubernur NTB pada acara Road show dan Talkshow Sinergitas Pengembangan SDM Dalam Mendukung Industri Prioritas di Kab. Dompu, Selasa (18/10/2022) di Lapangan Beringin Kantor Bupati Dompu.
Lebih lanjut dikatakan, industrialisasi itu prosesnya panjang, butuh waktu dan tidak sederhana. Dan apa yang di hadapi di NTB atau di Dompu katanya, seperti Inggriis 200 tahun lalu dan Amerika ratusan tahun yang lalu. “Ketinggalannya jauh sekali,” paparnyanya seraya mengatakan, industrialisasi itu tidak identik dengan STM (Sumabawa Timur Maining), dan tidak identik dengan industri besar yang asapnya mengepul yang menyebabkan polusi.
Pada acara yang dimoderatori Dr. Dodo Kurniawan lebih lanjut orang nomor satu di NTB ini menegaskan, industrialisasi itu adalah sebuah keberanian daerah kita berani untuk mengelola bahan baku yang ada di tempat kita sehingga nilai tambahnya lebih tinggi dan hasilnya lebih baik untuk kemakmuran bersama. “Dompu ini akan miskin terus kalau kita bangga jual jagung mentah ke Sulawesi kemudian Sulawesi memberikan kita pabrik pakan yang berasal dari jagung kita sendiri,” paparnya pada acara yang dihadiri Bupati Dompu, H. Kader Jaelani, Kepala Perwakilan BI dan Pimpinan Bank NTB Syariah yang juga sebagai narasumber pada roadshow ini.
“Jadi industrialisasi itu adalah keberanian pak Bupati, Gubernur, polisi dan Jaksa untuk tidak lagi membiarkan bahan baku keluar begitu saja dari tempat kita,” katanya seraya mengakui, siang itu pakaian yang dikenakan berasal dari tenunan khas Dompu.

Industrialisasi itu menyebabkan kemiskinan dari tempat kita katanya, kalau kainnya dibeli di Dompu dengan harga kain Rp. 200 ribu kemudian di jahit di Surabaya atau Jakarta kemudian Pak Bupati beli di Jakarta dengan harga 5 juta. Ia menjelaskan, kenapa daerah kita miskin karena terbiasa di alam bawah sadar kita itu jual yang gampang-gampang untuk dibeli dengan harga yang lebih tinggi produk yang berasal dari daerah sendiri.
Pada acara yang dihadiri Hj. Niken Julkifliemansyah dan Lilis Suryani Kader Jaelani Gubernur NTB juga mengakui, Propinsi NTB termasuk salah satu propinsi yang berani memulai industrialisasi ini. Indonesia ini tidak jalan dan para pejabat tidak maju-maju karena senang pake buatan luar negeri. “Kadang-kadang bukan karena senang tapi karena gampang juga dapat buatan negeri,” katanya.
Pada acara yang dihadiri Wakil Bupati Dompu, H. Syahrul Parsan, ST, MT dan para pejabat di lingkup Prop. NTB dan Setda Dompu ini lebih lanjut Gubernur NTB memberikan contoh ketika dirinya bersama Bupati yang diundang ke Surabaya di pabrik pengolahan ikan yang ikannya berasal dai Sape dan Sekotong Lombok. “Di sana ikan kita dibersihkan, dibuang kotorannya kemudian dibekukan. Saya kira mau diekspor ke China, setelah dibersihkan dan dibekukan, dijual kembali ke Nusa Tenggara Barat dengan harga yang relatif lebih tinggi,” katanya.
Nah sekarang ini banyak produk-produk yang sebenarnya mampu dilakukan di dsersh ini tapi kita tidak bangga menggunakannya. “Alhamdulillah kemarin ada covid, tiang infus saja harus kita beli dari Jawa Barat,” paparnya seraya mengatakan, ini harus dihentikan dan ini gak gampang menghadirkan bea cukai, polisi dan jaksa. (nas)











