DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Petani organik binaan PT Sumbawa Timur Mining (STM) yang mengikuti Training of Trainer sejak 27 Oktober lalu akhirnya dilepas. Para petani ini diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungannya dalam melakukan pertanian berkelanjutan yang sehat dan ramah lingkungan.

Selama 5 hari kegiatan TOT, petani yang sudah berpengalaman dalam melakukan pertanian berkelanjutan ini diperdalam pemahamannya tentang pertanian organik. Mulai dari persiapan lahan, pengamatan hama, dan pemupukan dengan pupuk kompos atau pupuk organik lainnya.
Muhammad Iswahdan, dari Comdev PT STM pada pelepasan peserta TOT di SMKN 1 Huu, Senin (31/10/2022) mengungkapkan, TOT ini ditujukan agar dapat mempersiapkan petani yang sudah berpengalaman dalam melakukan pertanian berkelanjutan yang sehat dan ramah lingkungan menjadi petani yang paham akan teknis dan metodologi pertanian.
“Sehingga mereka ini memiliki kemampuan dalam memimpin, mengarahkan, dan memfasilitasi dirinya dan masyarakat disekitarnya untuk juga dapat turut serta mengimplementasikan teknik budidaya organik ini,” katanya.
Karenanya, para petani yang mengikuti pelatihan ini dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya. Sehingga petani berdaya dan dapat saling menguatkan satu sama lain.

Jaringan Insan Organik Sejahtera (JIOS), kumpulan petani binaan PT STM diharapkan dapat menjadi wadah berkomunikasi antar petani. Apalagi di dalamnya terdapat konsultan PT STM yang bisa memberikan solusi ketika ada persoalan. “Kita (PT STM) dukung penuh terkait wadah para petani organik ini,” ungkap Iswahdan.
Abubakar, petani organik asal Desa Huu mengungkapkan komitmennya untuk memproduksi pertanian organik. Selama ini, pihaknya sudah banyak memproduksi sayur – sayuran organik. Kedepan akan dikembangkan pada lahan – lahannya yang tersedia di Dusun Ncangga, Desa Huu. “Besok kita bertekad untuk memulai dengan (pupuk kompos),” katanya.
Lain halnYa dengan Lilis Asmawati, salah satu peserta TOT asal SMKN 1 Huu yang memberikan apresiasi atas kegiatan ini dan cerita sukses petani herbal di Huu. Karenanya ia meminta ijin kepada petani organik binaan PT STM agar bisa menjadi tempat siswanya belajar di lapangan. Karena SMKN 1 Huu ini masih terbatas lahan, sarana dan prasarana praktiknya.
Padi organik yang dikembangkan petani binaan PT STM ini menggunakan varietas padi ‘Mentik Susu’ dan dengan pola SRI atau tanaman padi yang intensif. Dengan pola dan teknik ini dapat mengatasi kendala petani konvensional. Seperti masalah produktifitas rendah, penggunaan pupuk semakin tinggi di tengah kelangkaan dan mahalnya pupuk kimia, hama penyakit yang semakin banyak, dan penggunaan pestisida yang semakin banyak.
Dengan pola SRI pada padi organik dapat membangun ekosistem yang ramah lingkungan, karena terjadi daur ulang energi sehingga tanaman padi tumbuh subur, tidak ada hama walaupun ada serangga karena alamnya sudah seimbang. “Dengan keseimbangan alam inilah, hasil tanaman padi saya yakin akan berproduksi lebih tinggi, rasa nasinya enak, alamnya lestari, kearifan lokal tumbuh, potensi domestik akan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Alik Sutaryat, Ketua Yayasan Aliksa Organik Sri Indonesia sebagai konsultan PT STM.
Padi organik ini mengandung karbohidrat yang sudah tereduksi sampai 82 persen dan proteinnya tinggi. Hasil uji coba selama ini, rata – rata produksi 8,7 ton per ha dan bahkan ada yang sampai 12 ton per ha. (vin)










