DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Cuaca ekstrim akibat hujan yang terus mengguyur dan menyebabkan banjir, juga berdampak pada kualitas jagung petani. Banyak jagung petani yang rusak akibat direndam air dan tidak bisa dijemur secara maksimal. Belum lagi tuntutan ekonomi menjelang lebaran Idul Fitri memaksa petani memanen muda jagungnya.
Jagung menghitam karena berjamur akibat tidak bisa dikeringkan secara maksimal. Karena saat dipetik dan digiling (memisahkan biji jagung dari tongkolnya) diguyur hujan. Ketika hendak dijemur secara manual untuk pengeringan, cuaca selalu diguyur hujan. Sehingga banyak jagung petani menjamur dan ketika dikeringkan menghitam.
Kualitas jagung yang rusak membuatnya tidak bisa ditampung di gudang – gudang penampung jagung petani. Jagung ini pun ditawari dengan harga yang cukup rendah sekitar Rp.2 ribuan per kg dari standar harga yang berlaku di atas Rp.4.200 per kg. Pembeli biasanya menggunakan kendaraan untuk langsung diangkut bagi kebutuhan pakan ternak. Selain berjamur, jagung petani juga berkapur. Kondisi ini disebabkan jagung dipanen muda.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Muhammad Syahroni, SP, MM , Selasa (25/4/2023) kemarin mengakui, anjloknya harga sebagian jagung petani di Dompu karena faktor kualitas jagungnya. Kualitas jagung yang rendah ini disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Jagung diguyur hujan mulai proses pemetikan, penggilingan hingga penjemuran. “Memang harga ini relatif sudah baik dibandingkan sebelumnya. Tapi karena kondisi cuaca berdampak pada kualitas jagung kita,” katanya.
Yang bisa dilakukan untuk jangka pendek, kata Syahroni, pihaknya akan mengoptimalkan sarana yang ada. Seperti lantai jemur, dan certikal drayer milik kelompok akan disurati untuk bisa dimaksimalkan membantu petani. “Seperti BBU di Tolobara, itu kita buka untuk umum. Karena ada lantai jemurnya, kita buka untuk dimanfaatkan oleh petani,” ungkapnya.
Muhammad Syahroni juga mengungkapkan, sudah mengingatkan kepada jajarannya di lapangan untuk tidak jenuh mendampingi petani. Salah satu faktor penyebab kualitas jagung petani menurun akibat tingginya kadar kapur pada jagung pipilan. Kondisi ini disebabkan oleh jagung dipanen muda atau belum waktunya. “Kalau kadar kapur itu karena jagung dipanen muda. Banyak petani kita melakukan panen muda karena mau lebaran. Ini menjadi catatan kami,” terangnya.
Soal hujan, lanjutnya, ketika jagung belum dipetik dan diguyur hujan tidak akan menyebabkan jagung berjamur. Tapi rata – rata jagung berjamur akibat terlalu lama dalam kondisi lebab dan tidak dikeringkan. Sementara petani rata – rata mengandalkan sistem penjemuran manual di lapangan dan di lorong – lorong. Ketika hujan, sering digenangi air dan membasahi jagung.
Adnin, petani jagung di Kempo mengakui, banyak jagung yang berjamur akibat terlalu lama diguyur hujan dan kondisi lembab. Ketika dikeringkan, jamur itu menghitam. “Kalau jagung kita ndak kapur, karena kita panen sesuai waktu. Yang kapur itu, mereka yang panen muda,” ungkapnya.
Selain hujan yang terus mengguyur, lamanya mereka menjemur jagungnya karena tidak adanya tempat menjemur. Karena mengandalkan lapangan, sementara banyak petani yang memanfaatkan. Sehingga harus mengantri dan hujan tetap mengguyur. “Kita jemur ada yang sampai 15 hari,” ungkapnya.
Sementara untuk harga jagung yang kering dan kualitasnya bagus, di tingkat petani saat ini antara Rp.4.500 hingga Rp.4.900 per kg. Sementara yang rusak karena kapur dan jamur, harganya Rp.2 ribuan hingga Rp.3 ribuan di tingkat petani. (vin/*)










