“Rabbibni li ‘indaka baitan fil jannah.”

(Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di surga).
Doa ini dipanjatkan oleh seorang wanita beriman bernama Asiyah Bintu Muzahim, yang bersuamikan dan hidup serumah dengan seorang kafir dan bahkan mengaku diri sebagai tuhan bernama Fir’aun.
Allah mengabadikan doanya di dalam Al-Qur’an (At-Tahriim: 11) sebagai bukti bahwa doanya dikabulkan. Di samping itu, doa monumentalnya ini diabadikan untuk menyampaikan banyak pesan, di antaranya tentang bagaimana kita memilih rumah sebagai tempat tinggal.
Bagi Asiyah, yang penting dan utama bukan apa dan seperti apa rumah yang dibangun, tapi di mana dan dalam lingkungan seperti apa rumah itu dibangun. Lihatlah redaksi doanya, “Tuhanku bangunkan untukku di sisi-Mu sebuah rumah.” Ia tidak berdoa “Tuhanku bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu.” Ia mendahulukan kata “Di sisi-Mu” (‘Indaka) daripada “Sebuah rumah” (Baitan). Doanya ini menyiratkan pesan bahwa rumah idaman adalah rumah di sisi Allah.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan doa Asiyah ini, mengutip pendapat para ulama bahwa doanya tersebut menandakan ia mengutamakan tetangga daripada rumah (Ikhtaarat al-jaara qabla ad-daar). Ia memikirkan siapa yang akan tinggal dengannya sebelum memikirkan di mana ia tinggal. Ia mengidamkan tempat tinggal atau rumah di sisi Allah.
Apa makna rumah di sisi Allah? Dalam konteks doa Asiyah itu berarti rumah di surga. Tapi dalam konteks kehidupan dunia kita saat ini itu bisa diartikan rumah yang berada di lingkungan yang kondusif untuk ketaatan dan ibadah kepada Allah. Rumah di lingkungan yang merawat keimanan kita dan bukan menggerusnya. Yang mempertegas keislaman kita dan bukan mengaburkannya.
Rumah seperti ini tidak begitu saja terwujud, tetapi dibentuk oleh lingkungan yang mendukung, antara lain oleh lingkungan tetangga sesama muslim. Berada di tengah lingkungan muslim, kita akan menjadi bagian dari pergaulan dan interaksi keseharian yang bernafaskan Islam. Model interaksi serta cara memperlakukan sesama terbangun oleh nilai-nilai Islam.
Ini mungkin tidak berlaku mutlak. Seorang muslim sejati, dengan keimanannya, memang bisa tinggal dan hidup di mana saja, bahkan di tengah lingkungan kafir sekalipun. Asiyah sendiri yang hidup serumah dengan Fir’aun yang merupakan manusia terkafir dalam sejarah manusia adalah bukti nyata akan hal itu. Tapi doa Asiyah juga adalah bukti betapa ia merindukan lingkungan rumah yang mendukung keimanannya. Lewat doanya, ia meninggalkan pesan buat kita bahwa orang beriman harus memilih rumah di lingkungan yang mendukung keimanannya.
Selain tetangga muslim, ciri lain dari rumah yang didoakan Asiyah dalam kehidupan kita adalah dekat dengan tempat ibadah, baik masjid atau musala. Masjid adalah rumah Allah di Bumi. Memiliki rumah dekat masjid berarti menjadi tetangga Allah. Menjadi tetangga Allah berarti mudah untuk meraup keuntungan ukhrawi yang tak terhitung. Salat berjamaah terjaga, pahala berlipat 27 derajat tergapai, langkah-langkah suci yang bernilai tinggi di mata Allah setiap saat terayun menuju rumah-Nya.
Ketika kita memikirkan dan mempertimbangkan ini semua sebelum membangun atau membeli rumah, berarti kita telah melakukan sebuah kebaikan besar, yaitu melibatkan Allah dalam memilih tempat tinggal. Menjadikan rumah sebagai wasilah untuk mendekat kepada-Nya. Rumah seperti ini insya Allah akan selalu diberkahi dan diperhatikan oleh Allah. Pemilik dan penghuninya akan senantiasa dekat dengan Allah, karena sejak awal ia ingin dekat dengan-Nya. Bukankah Allah mendekat kepada hamba yang berusaha mendekat kepada-Nya?
Ini adalah tuntunan buat kita yang hidup di zaman yang menawarkan banyak kriteria tentang rumah. Di mana pun kita membaca iklan rumah, umumnya yang ditonjolkan adalah seberapa dekat rumah itu dari bandara, dari sekolah, dari pusat perbelanjaan, dari pusat kota, dari pintu tol, dan dari tempat-tempat yang dianggap penting lainnya. Tapi pelajaran dari doa Asiyah ini menuntun kita untuk bertanya: siapa tetangga di sekitar rumah itu? Seberapa dekat rumah itu dengan rumah Allah? Insya Allah, siapa pun yang mencari rumah dengan dua kriteria ini, Allah akan rezekikan untuknya rumah yang akan mendekatkannya kepada-Nya.
Wallahu A’lam.
*Penulis adalah dosen tetap Pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.










