ADVERTISEMENT
Rabu, 4 Februari 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Peraturan Perusahaan
  • Kontak Kami
Insan Channel
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Insan Channel
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Efek Mengerikan KDRT

Oleh: Nasaruddin Idris Jauhar

admin@insanchannel.com by admin@insanchannel.com
7 Februari 2022
in Pendidikan
0
Bagikan di WahtsAppBagikan di Facebook

Suatu hari, dulu sekali, saat di rumah masih ada TV,  saya pernah melihat iklan layanan masyarakat tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Mengambil setting dalam kelas sebuah Sekolah Dasar, iklan tersebut menampilkan seorang ibu guru yang tengah menjelaskan kata-kata disertai dengan visualisasi gambar.

Dr. H. Nasaruddin Idris Jauhar

Di meja deretan paling depan, seorang siswi duduk memperhatikan gurunya dengan sangat fokus. Ketika Sang Ibu Guru menampilkan kata “ibu” disertai gambar seorang perempuan, wajahnya langsung berubah berbinar, senyum di bibir kecilnya mengembang. Ada rasa dan kenangan bahagia yang dibawa kata tersebut kedalam dirinya, hadir mengisi memori, hati, dan perasaannya.

RelatedPosts

Rangkaian HPN 2026, PWI dan Kemenhan Gelar Retret Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan

Rakercab Kwarcab Gerakan Pramuka Dompu Bahas Persiapan Jamnas dan Penguatan Organisasi

Buka Penerimaan Mahasiswa Baru, IAQH Sediakan Jalur Beasiswa

Sejurus kemudian, Ibu Gurunya menampilkan kata “Bapak” disertai gambar seorang laki-laki. Wajahnya tiba-tiba berubah ketakutan, senyum yang tadi menghiasi bibirnya  mendadak sirna. Jari-jari mungilnya meremas kuat-kuat lembaran kertas di hadapannya sampai berbentuk seperti bola kecil yang kusut. Tampak ada semacam trauma dan dendam yang mendalam yang hadir bersama kata tersebut, mengisi relung hati dan ingatannya.

Iklan itu begitu membekas dalam ingatan saya. Dengan mudah saya menangkap pesan di baliknya. Bahwa KDRT adalah mimpi buruk buat anak-anak. Kekerasan dalam rumah, terutama oleh seorang suami terhadap istri, akan menyisakan trauma psikologis yang mendalam buat anak-anak mereka. Trauma itu pada gilirannya akan mematrikan dendam abadi si anak terhadap ayahnya.

Tapi, walaupun begitu, saya merasa iklan ini juga bisa dibilang berlebihan. Benarkah sehebat itu dampak psikologis KDRT dalam diri seorang anak? Seburuk-buruknya seorang ayah, pasti pernah menunjukkan kasih sayangnya kepada anaknya. Tak bisakah kenangan baik seorang ayah hadir dalam benak seorang anak dan mengimbangi memori buruk tentangnya?

Begitulah, untuk waktu yang lama, saya menyimpan kemusykilan atas kebenaran pesan iklan tersebut. Sampai kemudian seorang teman bercerita tentang pengalamnnya menguji skripsi seorang mahasiswi korban KDRT. Di persembahan skripsinya, ia hanya menulis nama ibunya. Teman saya itu heran, dan bertanya kenapa nama ayahnya tidak ditulis. Si Mahasiswi menjawab dengan isak tangis pilu. Teman saya dan penguji lainnya menjadi bingung. Forum ujian skripsi itu kemudian menjadi ajang curhat mahasiswi malang tersebut.

Ia cerita, ayahnya kerap melakukan kekerasan fisik terhadap ibunya. Bahkan, suatu kali, dan ini yang paling traumatis buatnya, ayahnya memukul ibunya dengan alat masak yang berisi air. Ia menyaksikan kebengisan ayahnya dan ketidakberdayaan ibunya tersebut dengan mata kepalanya. “Sampai kapan pun saya tidak bisa menerima itu,” ucapnya dengan isak pilu yang tak tertahankan.

Trauma atas berbagai aksi KDRT ayahnya, ia kemudian tidak hanya membenci ayahnya, tapi juga menganggap semua lelaki juga memiliki potensi yang sama. Teman saya dan para penguji serentak mengoreksi sikapnya itu. “Loh, jangan begitu. Tidak semua lelaki jahat. Kami semua disini, yang mengujimu ini, tidak seperti ayahmu itu,” salah satu penguji coba menyadarkan dia. “Iya, karena bapak-bapak  berpendidikan,” timpalnya. Ternyata, Ia menganggap ayahnya yang kebetulan seorang sopir itu tidak berpendidikan.

Sadarlah saya, ternyata iklan yang saya tonton di TV tadi tidak mengada-ada. Bahwa KDRT memang tidak hanya menjadi mimpi buruk buat istri, tapi juga untuk anak-anaknya. Untuk anak usia SD, mungkin mimpi buruk itu hanya melahirkan rasa takut dan tertekan yang membuat dia terus berusaha menghindar dari ayahnya. Tapi, seiring berkembangnya usia, ia akan menjelma dalam berbagai bentuk pikiran dan sikap negatif. Seluruh hidupnya tak akan menyisakan respek untuk ayahnya. Mungkin, kelak ketika siswi SD tadi menjadi mahasiswi, ia juga tidak akan menulis nama ayahnya dalam persembahan skripsinya. Juga mungkin, ketika kelak ia menikah, ia tak akan mau diakadkan oleh ayahnya.

Mushiibatu qaumin fawaaid. Derita seseorang adalah pengalaman bagi yang lainnya. Iklan dan cerita tentang mahasiswi tadi adalah pelajaran buat kita, para ayah dan ibu, atau para calon ayah dan ibu, untuk membangun rumah tangga yang nyaman bagi anak-anak, tempat dimana mereka menyaksikan dan belajar tentang kasih sayang, dan bukan laboratorium kekerasan. Wallahu A’lam.

(Penulis adalah dosesn tetap pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya)

Previous Post

ASN Kemenag. Dompu Tandatangani Pakta Integritas

Next Post

Harapan Mereka Kepada Pers

admin@insanchannel.com

admin@insanchannel.com

Related Posts

Rangkaian HPN 2026, PWI dan Kemenhan Gelar Retret Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan
Pendidikan

Rangkaian HPN 2026, PWI dan Kemenhan Gelar Retret Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan

29 Januari 2026
Rakercab Kwarcab Gerakan Pramuka Dompu Bahas Persiapan Jamnas dan Penguatan Organisasi
Pendidikan

Rakercab Kwarcab Gerakan Pramuka Dompu Bahas Persiapan Jamnas dan Penguatan Organisasi

18 Januari 2026
Buka Penerimaan Mahasiswa Baru, IAQH Sediakan Jalur Beasiswa
Pendidikan

Buka Penerimaan Mahasiswa Baru, IAQH Sediakan Jalur Beasiswa

15 Januari 2026
Sepenggal Kisah Sang Nenek Umi Hj. Khadijah Binti Idi; (bag. I) “Sisa Cahaya”
Pendidikan

Sepenggal Kisah Sang Nenek Umi Hj. Khadijah Binti Idi; (bag. I) “Sisa Cahaya”

31 Desember 2025
Rangkaian HPN, 200 Wartawan Dijadwalkan Retret di Akmil Magelang
Pendidikan

Rangkaian HPN, 200 Wartawan Dijadwalkan Retret di Akmil Magelang

25 Desember 2025
Hadapi Dunia Kerja, STM Kenalkan Ragam Jurusan pada Siswa SMKN 1 Hu’u
Pendidikan

Hadapi Dunia Kerja, STM Kenalkan Ragam Jurusan pada Siswa SMKN 1 Hu’u

23 Desember 2025
Next Post
Harapan Mereka Kepada Pers

Harapan Mereka Kepada Pers

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Didukung PT STM, PWI Kabupaten Bima Sukses Gelar Turnamen Olahraga Peringati HPN 2026

Didukung PT STM, PWI Kabupaten Bima Sukses Gelar Turnamen Olahraga Peringati HPN 2026

1 Februari 2026
Rangkaian HPN 2026, PWI dan Kemenhan Gelar Retret Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan

Rangkaian HPN 2026, PWI dan Kemenhan Gelar Retret Perkuat Pers Profesional dan Berwawasan Kebangsaan

29 Januari 2026
Peringati Bulan K3 Nasional 2026, PT STM Kembali Gelar Donor Darah

Peringati Bulan K3 Nasional 2026, PT STM Kembali Gelar Donor Darah

29 Januari 2026
Dibangun 2025, Bupati Dompu Resmikan Gedung Kantor Camat Woja

Dibangun 2025, Bupati Dompu Resmikan Gedung Kantor Camat Woja

29 Januari 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Peraturan Perusahaan
  • Kontak Kami

© 2021 - insanchannel.com - Developed by Tokoweb.co

  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya