Pada bulan Ramadan tahun ke-2 hijriyah, di sebuah tempat bernama Badar yang terletak di antara Makkah dan Madinah, terjadi sebuah peperangan maha dahsyat antara pasukan Islam dengan pasukan kafir. Pasukan Islam yang berjumlah sekitar 300 orang dan dipimpin langsung oleh Rasulullah saw berhadapan dengan 1000 tentara kafir pimpinan Amr bin Hisyam.

Sejarah merekam peperangan tersebut dengan nama Gazwat Badr Al Kubra untuk menggambarkan betapa dahsyat peristiwa ini. Al-Qur’an mengabadikannya dengan nama “Yaum al-Furqon”, yang berarti hari pembeda. Sebuah pertempuran hidup mati tidak hanya bagi para pejuang Islam saat itu, tapi juga bagi agama Islam yang mereka perjuangkan. Menang berarti kejayaan bagi Islam dan ummat Islam. Sebaliknya, kalah berarti bencana bagi kaum muslimin dan juga kematian buat dakwah Islam yang baru bersemi saat itu.
Begitu menentukannya peperangan tersebut, Rasulullah saw sang komandan tertinggi, secara khusus berdo’a kepada Allah agar diberi kemenangan. Beliau berseru “Ya Allah penuhilah janji-Mu padaku. Ya Allah berikan apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah jika pasukan Islam ini Engkau binasakan (kalah), maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”
Allah mengabulkan do’a beliau. Allah menyuntikkan kekuatan fisik dan spiritual maha dahsyat kedalam setiap dada pasukan Islam, sehingga mereka tidak gentar tampil menghadapi musuh yang jumlahnya tiga kali lebih banyak. Tidak hanya itu, Seribu malaikat diturunkan oleh Allah menjadi pasukan kasat mata yang bahu membahu dengan para pejuang Islam dalam menaklukkan musuh. Hasilnya, pasukan Islam dengan gemilang menaklukkan pasukan kafir yang jumlahnya tiga kali lipat tersebut. Bahkan, pemimpin mereka, Amr bin Hisyam, menemui kematiannya di tangan pasukan muslimin.
Sejarah kemudian merekam peristiwa heroik ini dalam beragam versi. Ratusan kitab sejarah berusaha menampilkan detail-detail paling valid dari apa yang terjadi saat itu. Tidak hanya itu, pernik-pernik peristiwa Badar juga ikut direkam dan diulas sebagai peristiwa religius yang meninggalkan pesan-pesan moral yang tak terbilang. Ini bisa dimaklumi, karena peristiwa Badar adalah perang suci, bagian dari strategi dakwah Islam, dan dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad saw. Apa yang dilakukan oleh beliau saat itu, tidak hanya demi membela agama Allah dan menaklukkan musuh-Nya di hari yang genting itu, tapi sekaligus sebagai pesan yang sengaja beliau tinggalkan untuk ummatnya setelah masa itu, termasuk kita yang hidup di masa sekarang ini.
Salah satu percikan hikmah dari kecamuk perang Badar adalah bagaimana Rasulullah saw sebagai komandan perang tertinggi saat itu bersikap dan menempatkan diri di antara pasukannya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ketika melihat jumlah pasukannya sekitar 300 orang, sementara tunggangan yang tersedia hanya sekitar 70 ekor unta dan dua ekor kuda, Beliau dengan bijak berucap, “Kullu tslaatsatin ‘ala raahilah” (Tiap tiga orang bergantian menunggang satu ekor unta). Lalu kemudian Beliau melanjutkan, “Ana wa Aliyyun wa Abu Lubaabah ‘ala raahilah” (Saya bersama Ali dan Abu Lubaabah bergantian naik satu tunggangan).
Ketika pasukan mulai bergerak, Rasulullah saw mendapat giliran pertama menunggang, semetara Ali dan Abu Lubaabah berjalan mengiringi. Ketika sampai pada jarak yang mereka sepakati untuk bergantian, Rasulullah saw kemudian bersiap turun untuk berjalan. Namun, kedua sahabatnya tersebut menahan dan mempersilakan beliau untuk tetap berada di atas tunggangan. Mendapat perlakuan istimewa seperti itu beliau berucap, “Ma antuma bi aqwa minni alas sair, wa ma ana bi aghna minkuma anil ajr”. (Saya juga kuat berjalan seperti kalian, dan saya juga menginginkan pahala seperti kalian).
Ucapan dan sikap Rasulullah saw ini meninggalkan pelajaran berharga buat kita. Pertama, beliau mengajarkan kita tentang persamaan dan keadilan. Sebagai komandan tertinggi, bisa saja beliau meminta dibuatkan tenda berjalan yang ditandu oleh pasukannya. Tapi, beliau memilih untuk bergantian menunggang seekor unta bersama dua orang sahabatnya. Ucapan beliau “Saya bersama Ali dan Abu Lubaabah bergantian naik satu tunggangan” adalah pesan bahwa apa yang beliau putuskan untuk pasukannya berlaku juga untuk beliau sendiri. Ini adalah pesan bahwa setiap pemimpin –dan setiap kita adalah pemimpin- harus berlaku adil kepada yang dipimpin..
Bulan Ramadan adalah bulan berbagi. Momentun untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, dan memberi kesempatan orang lain untuk merasakan apa yang kita rasakan. Ramadan adalah saat dimana yang kaya merasakan apa yang dirasakan yang miskin, dan yang miskin merasakah apa yang dirasakah oleh yang kaya. Teladan Rasulullah yang ikut merasakan bagaimana berjalan saat pasukannya menunggang adalah pelajaran buat kita untuk senantiasa berbagi, tenggang rasa, serta adil dengan sesama.
Kedua, beliau mengirim pesan kepada kita bahwa seorang muslim harus kuat secara fisik. Ucapan beliau “Saya juga kuat berjalan seperti kalian” tidak hanya untuk menolak perlakuan istimewa kedua sahabatnya, tapi juga untuk meyakinkan mereka berdua bahwa beliau kuat secara fisik. Ini pesan bagi kita bahwa kekuatan jasmani tidak kalah penting dan vitalnya dari kekuatan rohani. Bahkan, di dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan, “Mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah”.
Kekuatan fisik bagi seorang muslim menjadi penting karena merupakan sarana bagi semua kebaikan yang ingin ia kerjakan. Bayangkan, kalau beliau saw lemah secara fisik, mungkin beliau tidak akan terjun langsung memimpin peperangan Badar, dan itu adalah kerugian moril bagi pasukan Islam. Beliau juga mungkin akan tetap berada di atas tunggangan dan tidak turun berjalan saat giliran beliau berjalan tiba, dan ini bisa memberikan kesan bahwa beliau tidak adil terhadap pasukannya.
Puasa Ramadan, sebagimana yang dijelaskan oleh berbagai temuan medis, adalah proses refreshing dan revitalisasi tahunan bagi tubuh kita agar terjaga vitalitasnya untuk mendukung aktifitas hidup kita selama satu tahun. Pengakuan Rasulullah bahwa beliau kuat secara fisik adalah tambahan motivasi buat kita untuk menjadikan puasa Ramadan sebagai sarana untuk menjadi sosok yang kuat seperti beliau sehingga bisa melakukan banyak kebaikan yang umumnya menuntut vitalitas fisik.
Ketiga, Beliau SAW mengajarkan bahwa motif dari semua yang beliau lakukan adalah pahala dan balasan dari Allah. Beliau tidak menganggap bahwa berjalan kaki mengiringi pasukannya yang menunggang unta akan merendahkan dirinya, tapi sebaliknya, itu adalah kebaikan yang mendatangkan pahala baginya. Di mata manusia mungkin ini terlihat tidak pantas bagi seorang komandan perang, tapi dimata Allah ini adalah sebuah kebaikan yang akan diganjar pahala.
Ucapan beliau, “Saya juga menginginkan pahala seperi kalian” bermakna betapa beliau begitu “haus pahala”. Kita dipertontonkan sebuah pelajaran yang begitu luhur, bahwa walaupun beliau seorang Rasul, manusia paling istimewa di sisi Allah, terlindungi dan terampuni dari setiap dosa, serta penghuni syurga yang teristimewa, namun beliau tidak mau kalah dan bahkan berlomba dengan ummatnya dalam hal “mengais” pahala.
Ini pesan agung bahwa pahala harus menjadi visi dan motivasi hidup kita. Kita harus menjadi muslim yang “Pahala-minded”. Pekerjaan apa pun jangan kita pandang dengan kacamata besar-kecil, atau terhormat-tidak terhormat, serius-remeh, pantas-tidak pantas… dan seterusnya, tapi kita pandang dari sisi pahala yang bisa kita dapatkan darinya.
Bulan Ramadan adalah bulan kebaikan. Penuh motivasi dan dorongan bagi kita untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan. Berlipat-lipat pahala dijanjikan Allah untuk siapa pun yang mau berbuat baik. Pesan “Pahala-minded” dari Rasulullah dan para pejuang Badar adalah motivasi tambahan buat kita untuk menjadikan sekecil apa pun kebaikan sebagai sarana untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Semoga…!*
*Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya










