ADVERTISEMENT
Minggu, 26 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Peraturan Perusahaan
  • Kontak Kami
Insan Channel
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Insan Channel
No Result
View All Result
Home Agama

Hikmah Ramadan Dari Perang Badar 

Oleh: Nasaruddin Idris Jauhar*

admin@insanchannel.com by admin@insanchannel.com
13 April 2022
in Agama
0
Bagikan di WahtsAppBagikan di Facebook

Pada bulan Ramadan tahun ke-2 hijriyah, di sebuah  tempat  bernama Badar yang ‎terletak di antara Makkah dan Madinah,  terjadi sebuah peperangan maha dahsyat antara pasukan Islam dengan pasukan kafir. Pasukan Islam yang berjumlah sekitar 300 orang dan dipimpin langsung oleh Rasulullah ‎saw berhadapan dengan 1000 tentara kafir pimpinan Amr bin Hisyam.‎

Nasaruddin Idris Jauhar

Sejarah merekam peperangan tersebut dengan nama Gazwat Badr Al Kubra untuk menggambarkan ‎betapa dahsyat peristiwa ini. Al-Qur’an mengabadikannya dengan nama “Yaum al-Furqon”, ‎yang berarti hari pembeda. Sebuah pertempuran hidup mati tidak hanya  bagi para pejuang Islam ‎saat itu, tapi juga bagi agama Islam yang mereka perjuangkan. Menang berarti kejayaan bagi Islam ‎dan ummat Islam. Sebaliknya, kalah berarti bencana bagi kaum muslimin dan juga kematian buat ‎dakwah Islam yang baru bersemi saat itu. ‎

RelatedPosts

Menyongsong Masa Pensiun Dengan Syukur dan Optimisme

Yang Tercecer Dari Bedah Buku “Ithafu Ummati Al-Muqtafa” Karya KH Zulfa Mustafa

Calon Ketua PBNU, KH Yusuf Chudlori Silaturrahim Ke PWNU, PCNU se-NTB

Begitu menentukannya peperangan tersebut, Rasulullah saw sang komandan tertinggi, secara  ‎khusus berdo’a kepada Allah agar diberi kemenangan. Beliau berseru “Ya ‎Allah penuhilah janji-Mu padaku. Ya Allah berikan apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah jika ‎pasukan Islam ini Engkau binasakan (kalah), maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”‎

Allah mengabulkan do’a beliau. Allah menyuntikkan kekuatan fisik dan spiritual maha dahsyat  ‎kedalam setiap dada pasukan Islam, sehingga mereka tidak gentar tampil menghadapi musuh yang ‎jumlahnya  tiga kali lebih banyak. Tidak hanya itu,  Seribu malaikat diturunkan oleh ‎Allah menjadi pasukan kasat mata yang bahu membahu  dengan para pejuang Islam dalam ‎menaklukkan musuh. Hasilnya, pasukan Islam dengan gemilang menaklukkan pasukan kafir yang ‎jumlahnya tiga kali lipat tersebut.  Bahkan, pemimpin mereka, Amr bin Hisyam, menemui ‎kematiannya di tangan pasukan muslimin.‎

Sejarah kemudian merekam peristiwa heroik ini dalam beragam versi. Ratusan kitab sejarah ‎berusaha menampilkan detail-detail paling valid dari apa yang terjadi saat itu. Tidak hanya itu, ‎pernik-pernik peristiwa Badar juga ikut direkam dan diulas sebagai peristiwa religius yang ‎meninggalkan pesan-pesan moral yang tak  terbilang. Ini bisa dimaklumi, karena peristiwa Badar ‎adalah perang suci, bagian dari strategi dakwah Islam, dan dipimpin langsung oleh Rasulullah ‎Muhammad saw. Apa yang dilakukan oleh beliau saat itu, tidak hanya demi membela agama Allah ‎dan menaklukkan musuh-Nya di hari yang genting itu, tapi sekaligus sebagai pesan yang sengaja ‎beliau tinggalkan untuk ummatnya setelah masa itu, termasuk kita yang hidup di masa sekarang ini.‎

Salah satu percikan hikmah dari kecamuk perang Badar adalah bagaimana Rasulullah saw sebagai ‎komandan perang tertinggi saat itu  bersikap dan menempatkan diri di antara pasukannya. Dalam ‎sebuah riwayat dikisahkan, ketika melihat jumlah pasukannya sekitar 300 orang, sementara ‎tunggangan yang tersedia hanya sekitar 70 ekor unta dan dua ekor kuda,  Beliau dengan ‎bijak berucap, “Kullu tslaatsatin ‘ala raahilah” (Tiap tiga orang bergantian menunggang satu ekor ‎unta). Lalu kemudian Beliau melanjutkan, “Ana wa Aliyyun wa Abu Lubaabah ‘ala raahilah” (Saya ‎bersama Ali dan Abu Lubaabah bergantian naik satu tunggangan).  ‎

Ketika pasukan mulai bergerak, Rasulullah saw mendapat giliran pertama menunggang, semetara Ali ‎dan Abu Lubaabah berjalan mengiringi. Ketika sampai pada jarak yang mereka sepakati untuk ‎bergantian, Rasulullah saw kemudian bersiap turun untuk berjalan. Namun, kedua sahabatnya tersebut ‎menahan dan mempersilakan beliau untuk tetap berada di atas tunggangan. Mendapat ‎perlakuan istimewa seperti itu beliau berucap, “Ma antuma bi aqwa minni alas sair, wa ma ana bi ‎aghna minkuma anil ajr”. (Saya juga kuat berjalan seperti kalian, dan saya juga menginginkan pahala ‎seperti kalian). ‎

Ucapan dan sikap Rasulullah saw ini meninggalkan pelajaran berharga buat kita. Pertama, beliau mengajarkan kita tentang persamaan dan keadilan. Sebagai komandan ‎tertinggi, bisa saja beliau meminta dibuatkan tenda berjalan yang ditandu oleh pasukannya. Tapi, ‎beliau memilih untuk bergantian menunggang seekor unta bersama dua orang sahabatnya. Ucapan ‎beliau “Saya bersama Ali dan Abu Lubaabah bergantian naik satu tunggangan” adalah pesan bahwa ‎apa yang beliau putuskan untuk pasukannya berlaku juga untuk beliau sendiri. Ini adalah pesan ‎bahwa setiap pemimpin –dan setiap kita adalah pemimpin- harus berlaku adil kepada yang ‎dipimpin..‎

Bulan Ramadan adalah bulan berbagi. Momentun untuk merasakan apa yang dirasakan oleh ‎orang lain, dan memberi kesempatan orang lain untuk merasakan apa yang kita rasakan. Ramadan ‎adalah saat dimana yang kaya merasakan apa yang dirasakan yang miskin, dan yang miskin ‎merasakah apa yang dirasakah oleh yang kaya. Teladan Rasulullah yang ikut merasakan bagaimana ‎berjalan saat pasukannya menunggang adalah pelajaran buat kita untuk senantiasa berbagi, ‎tenggang rasa, serta adil  dengan sesama.‎

Kedua, beliau mengirim pesan kepada kita bahwa seorang muslim harus kuat secara fisik.  Ucapan ‎beliau “Saya juga kuat berjalan seperti kalian” tidak hanya untuk menolak perlakuan istimewa kedua ‎sahabatnya, tapi juga untuk meyakinkan mereka berdua  bahwa beliau kuat secara  fisik. Ini pesan ‎bagi kita bahwa kekuatan jasmani  tidak kalah penting dan vitalnya dari kekuatan rohani. Bahkan, di ‎dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan, “Mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah ‎daripada mukmin yang lemah”. ‎

Kekuatan fisik bagi seorang muslim menjadi penting karena merupakan sarana bagi semua ‎kebaikan yang ingin ia kerjakan. Bayangkan, kalau beliau saw lemah secara fisik, mungkin beliau ‎tidak akan terjun langsung memimpin peperangan Badar, dan itu adalah kerugian moril bagi ‎pasukan Islam. Beliau juga mungkin  akan  tetap berada di atas tunggangan dan tidak turun berjalan  ‎saat giliran beliau berjalan tiba, dan ini bisa memberikan kesan bahwa beliau tidak adil terhadap ‎pasukannya.  ‎

Puasa Ramadan, sebagimana yang dijelaskan oleh berbagai temuan medis, adalah proses ‎refreshing dan revitalisasi tahunan bagi tubuh kita agar terjaga vitalitasnya  untuk mendukung ‎aktifitas hidup kita selama satu tahun. Pengakuan Rasulullah bahwa beliau kuat secara fisik adalah ‎tambahan motivasi buat kita untuk menjadikan puasa Ramadan sebagai sarana untuk menjadi ‎sosok yang kuat seperti beliau sehingga bisa melakukan banyak kebaikan yang umumnya menuntut ‎vitalitas fisik.‎

Ketiga, Beliau SAW mengajarkan bahwa motif dari semua yang beliau lakukan adalah pahala dan balasan dari Allah. Beliau ‎tidak menganggap bahwa berjalan kaki mengiringi pasukannya yang menunggang unta akan ‎merendahkan dirinya, tapi sebaliknya, itu adalah kebaikan yang mendatangkan pahala baginya. Di ‎mata manusia mungkin ini terlihat tidak pantas bagi seorang komandan perang, tapi dimata Allah ‎ini adalah sebuah kebaikan yang akan diganjar pahala.‎

Ucapan beliau, “Saya juga menginginkan pahala seperi kalian” bermakna betapa beliau begitu “haus ‎pahala”.  Kita dipertontonkan sebuah pelajaran yang begitu luhur, bahwa walaupun beliau seorang ‎Rasul, manusia paling istimewa di sisi Allah, terlindungi dan terampuni dari setiap dosa, serta ‎penghuni syurga yang teristimewa, namun beliau tidak mau kalah dan bahkan berlomba dengan ‎ummatnya dalam hal “mengais” pahala.

‎Ini pesan agung bahwa pahala harus menjadi visi dan motivasi hidup kita. Kita harus menjadi ‎muslim yang “Pahala-minded”. Pekerjaan apa pun jangan kita pandang dengan kacamata besar-kecil, ‎atau terhormat-tidak terhormat, serius-remeh, pantas-tidak pantas… dan seterusnya, tapi kita ‎pandang dari sisi pahala yang bisa kita dapatkan darinya. ‎

Bulan Ramadan adalah bulan kebaikan. Penuh motivasi dan dorongan bagi kita  untuk melakukan ‎sebanyak mungkin kebaikan. Berlipat-lipat pahala dijanjikan Allah untuk siapa pun yang mau ‎berbuat baik. Pesan “Pahala-minded” dari Rasulullah dan para pejuang Badar adalah motivasi ‎tambahan buat kita untuk menjadikan sekecil apa pun kebaikan sebagai sarana untuk meraup ‎pahala sebanyak-banyaknya. Semoga…!*

*Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya

Previous Post

Kakanwil Kemenag NTB Ajak CJH Untuk Terus Berdoa

Next Post

Biaya Haji NTB Masih Menunggu Kuota Resmi

admin@insanchannel.com

admin@insanchannel.com

Related Posts

Menyongsong Masa Pensiun Dengan Syukur dan Optimisme
Agama

Menyongsong Masa Pensiun Dengan Syukur dan Optimisme

21 Juli 2026
Yang Tercecer Dari Bedah Buku “Ithafu Ummati Al-Muqtafa” Karya KH Zulfa Mustafa
Agama

Yang Tercecer Dari Bedah Buku “Ithafu Ummati Al-Muqtafa” Karya KH Zulfa Mustafa

11 Juli 2026
Calon Ketua PBNU, KH Yusuf Chudlori Silaturrahim Ke PWNU, PCNU se-NTB
Agama

Calon Ketua PBNU, KH Yusuf Chudlori Silaturrahim Ke PWNU, PCNU se-NTB

8 Juli 2026
Dibuka Kepala Kemenag, Dompu Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Rakorda MUI NTB 2027
Agama

Dibuka Kepala Kemenag, Dompu Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Rakorda MUI NTB 2027

1 Juli 2026
Ketua MUI NTB Prihatin Dengan Masif Peredaran Narkoba dan Penyakit Sosial Lainnya
Agama

Ketua MUI NTB Prihatin Dengan Masif Peredaran Narkoba dan Penyakit Sosial Lainnya

19 Juni 2026
Antara Cut Nyak Dien Dan Cut Meutia, “Ada Air Mata”
Agama

Antara Cut Nyak Dien Dan Cut Meutia, “Ada Air Mata”

16 Juni 2026
Next Post
Biaya Haji NTB Masih Menunggu Kuota Resmi

Biaya Haji NTB Masih Menunggu Kuota Resmi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

ITDC Ajak Mario Aji dan Veda Ega Free Practice di Pertamina Mandalika International Circuit, Tegaskan Komitmen Dukung Local Heroes

ITDC Ajak Mario Aji dan Veda Ega Free Practice di Pertamina Mandalika International Circuit, Tegaskan Komitmen Dukung Local Heroes

25 Juli 2026
Prestasi Naik di Tengah Anggaran Menyusut, Dompu Kirim Pesan Kuat untuk Masa Depan Olahraga

Prestasi Naik di Tengah Anggaran Menyusut, Dompu Kirim Pesan Kuat untuk Masa Depan Olahraga

25 Juli 2026
Peringati Hari Konservasi Mangrove Internasional, InJourney Perkuat Kawasan Pariwisata Berkelanjutan melalui Pengembangan Mangrove Sanctuary di The Mandalika

Peringati Hari Konservasi Mangrove Internasional, InJourney Perkuat Kawasan Pariwisata Berkelanjutan melalui Pengembangan Mangrove Sanctuary di The Mandalika

24 Juli 2026
Muay Thai dan Panjat Tebing Antar Dompu Raih 44 Emas di Porprov 2026

Muay Thai dan Panjat Tebing Antar Dompu Raih 44 Emas di Porprov 2026

24 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Peraturan Perusahaan
  • Kontak Kami

© 2021 - insanchannel.com - Developed by Tokoweb.co

  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya