MATARAM, INSANCHANNEL.COM-Nama KH. Yusuf Chudlori kini menjadi buah bibir di kalangan pengurus PWNU NTB dan PCNU bahkan para Nahdiyin di Nusa Tenggara Barat. Ia merupakan salah satu nama penting yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU jelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jawa Timur akhir Agustus mendatang.
Pengasuh Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah dan salah satu pesantren besar yang memiliki jaringan alumni luas ini menggelar kegiatan silaturrahim dengan PWNU NTB dan PCNU se-NTB di Aula Gili Meno Hotel Lombok Raya Mataram, Rabu malam (8/7/2026).
“Semoga silaturrahim ini menghasilkan keberkahan, kemaslahatan fiddini, fidunna hattal akhirah,” ujar KH. Yusuf Chudlori, Pimpinan Pondok Pesantrean API Tegalrejo, Magelang di depan Tanfiziyah dan rais Syuriyah PCNU se-NTB serta Pengurus PWNU NTB.

Pria yang lahir pada 9 Juli 1973, di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah ini mengatakan, ada dua niat dan misi besar NU didirikan oleh para muassis. Pertama katanya, NU ini didirikan untuk menjaga dan melestarikan aqidah ahlussunah wal jamaah. “Ini niatan awal adalah untuk menjaga ahlussunah wal jamaah dari paham yg anggota masuk ke negara kita,” ungkapnya.
Kedua lanjutnya, NU berdiri di tengah tengah pergolakan perjuangan kemerdekaan. “Maka tujuan kedua adalah untuk menjaga negara kesatuan RI,” tandasnya seraya mengatakan, dua hal inilah yang diwariskan oleh para muassiss NU untuk menjaga ahlussunah wal jamaah dan nun untuk menjaga NKRI.
“Tentu untuk untuk menjaga dan menjalankan tugas ini dibutuhkan namanya tanzhim,” paparnya seraya mengatakan, sesuatu yang hak tidak ditata dan tidak diorganisir maka bisa dikalahkan oleh kebatilan-kebatilan yang lebih tertata. NU itu tandasnya, memiliki struktur yang lengkap mulai dari Syuriah dan tanfiziyah di PB, PW, PC sampai MWC dan ranting.
“Ini adalah upaya untuk menjaga tertib organisasi” ujarnya.
Untuk itu Gus Yusuf menyampaikan, keprihatinan terhadap dinamika yang terjadi di PBNU yang dampaknya sungguh luar biasa yang mengakibatkan struktur ini macet.
Satu tahun ini akuinya, program-program NU gak jalan. “Ketidakpastian tata kelola organisasi ini yang harus kita benahi bersama,” tandasnya sembari menambahkan, NU ini tidak hanya memiliki jam’iyah tapi memiliki jamaah. Maka tata kelola organisasi menjadi PR yang utama dan Muktamar NU ke-35 mendatang ini harus menjadi muktamar yang solutif. “Muktamar yang menyelesaikan masalah” tutur alumni Pondok Pesantren Lirboyo ini.
Gus Yusuf juga mengakui, didawuhi oleh para masyayih untuk ikut berikhtiar dandani PBNU. Ia didaulat oleh para masyayih dan PCNU untuk menawarkan gagasan yang lebih segar yang bebas dari konflik. “Butuh poros tengah yang bisa mengatur bersama-sama,” tutur putra KH. Chudlori, ulama kharismatik sekaligus pendiri Pondok Pesantren API Tegalrejo ini. (ic01)











