JAKARTA, INSANCHANNEL.COM – Nama KH Zulfa Mustofa tidak asing lagi di telinga kaum Nahdiyin bahkan masyarakat umum. Ia adalah seorang ulama, mubalig, penulis kitab, dan tokoh Nahdlatul Ulama yang dikenal aktif dalam bidang dakwah, fikih, dan pengembangan tradisi keilmuan pesantren. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU masa khidmat 2022–2027.
Ulama kelahiran Jakarta, 7 Agustus 1977 ini terlahir dari pasangan KH Muqarrabin dari Pekalongan dan Nyai Hj. Marhumah Latifah dari Kresek, Banten dan merupakan keponakan Ma’ruf Amin dari garis ibunya.
Zulfa Mustafa menempuh pendidikan pesantren di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon, kemudian di Pesantren Mathali’ul Falah. Dan diantara guru yang banyak mempengaruhi keilmuan Zulfa Mustafa adalah KH Sahal Mahfudh.

Selain berdakwah, beliau produktif menulis kitab. Di antara karya yang dikenal adalah Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu, Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i, dan yang terbaru Ithafu Ummati Al-Muqtafa, yang dibedah pada Jum’at malam (10/7/2026) di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.
Dari gaya penulisan dan aktivitasnya, KH Zulfa Mustofa dikenal sebagai Kiyai yang memadukan tradisi keilmuan klasik pesantren dengan pendekatan yang relevan terhadap persoalan umat dan kebangsaan.
Buku Ithafu Ummati Al-Muqtafa hadir bukan sekadar sebagai kumpulan tulisan keislaman, melainkan sebagai ikhtiar intelektual untuk memperkuat tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah yang berpijak pada Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, qiyas, serta warisan para ulama salaf dan khalaf.

Di mata Prof.Dr.H.Mahfud MD, KH. Zulfa Mustafa, adalah sosok yang fasihul kalam yang ngomongnya bagus dan menulisnya juga bagus. “Buktinya kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa almuqtafa fasihul qalam. Beliau pandai menulis dan tulisannya enak dan bernas,” ujar Mahfud MD pada malam bedah buku Ithafu Ummati Al-Muqtafa, Jum’at malam (10/7/2026) melalui zoom.
KH Zulfa kata mantan Ketua MK ini, adalah orang yang sangat tawadhu yang sangat pandai tetapi tidak merasa pandai. “Yang merasakan kepandaian KH. Zulfa adalah orang lain yang mendengar cara beliau berbicara dan cara beliau menulis. Sangat tawadhu,” jujurnya.
Sementara itu Prof. Dr. KH. Said Siraj, MA, mantan Ketua PBNU dalam makalahnya yang dibacakan Dr.KH. Mujib Kulyubi menilai, Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa ini merupakan salah satu karya ilmiah berbahasa arab yang lahir dari sanad pesantren di Nusantara. Penulis buku ini adalah seorang santri yang menimba langsung ilmunya dari mata air dari Pati Jawa Tengah yang salah satunya KH. Sahal Mahfud seorang Rais Am PBNU yang terkenal kealimannya dalam bidang ilmu fiqh dan Ushul fiqh,” ungkap KH Said Siraj.

Melalui kitab ini lanjut Kiyai Said, Dr. KH. Zulfa Mustafa telah menghidupkan kembali semangat keilmuan pesantren yang mendalam bersanad dan membumi. Apalagi ditengah deras informasi teknologi yang serba digital dan dangkal. “Maka tulisan dalam kitab merupakan kebutuhan yang mendasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya lagi.
Disisi lain tambahnya, yang ditulis KH Zulfa Mustafa ditengah kesibukannya sebagai Wakil Ketua Umum PBNU ini sebenarnya menyadarkan kita bahwa Nahdlatul Ulama itu bukan hanya sekedar urusan administratif keorganisasian tetapi juga tentang khazanah keilmuan. “Nahdlatul Ulama ke depan akan semakin maju dan berkembang apabila dan berkembali apabila berjalan diatas kaki ilmu pengetahuan dan tata kelola keorganisasian,” paparnya.
Sementara itu KH Zulfa Mustafa yang tampil bersahaja di depan ratusan utusan PWNU dan PCNU se-Nusantara ini mengakui, yang ikut memberi inspirasi nama kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa ini adalah KH. Afifuddin Muhajir (Rais Am) termasuk dari Prof.Dr. KH. Said Siraj MA. Untuk itu ia mendoakan perwakilan PWNU dan PCNU seluruh indonesia insya Allah diberkahi oleh Allah.
“Malam hari ini sungguh kebahagian yang luar biasa bagi saya,” jujur Zulfa Mustafa, Wakil Ketua Umum PBNU ini seraya menambahkan, ia menyampaikan rasa syukurnya karena bisa bersama dalam acara bedah kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.
Pihaknya menghbdang bedah buku di Masjid ini bukan kemampuannya untuk menggelar acara yang luar biasa ini tapi satu sisi diberi keberuntungan tapi satu sisi diberi ujian. “Setiap jelang muktamar ada saja Muhsinin yang siap untuk membantu membuat acara seperti ini,” jujurnya sembari mengakui, dirinya ingin acara sederhana tetapi karena Muhsinin ini yg menggelar dengan kondisi luar biasa seperti ini.
Di sisi lain katanya, ia diuji untuk menulis kitab ini dengan satu ujian apakah yang ditulis ini nanti bisa sesuai apa tidak dengan kaedah apapun. Menulis berbagai kitab, orang kalau sudah berani menulis kitab dia seperti orang yang meletakkan kepalanya di atas meja lalu menjadi santapan orang. “Saya harus siap dikritik,” jujurnya. (ic01)










