DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Dompu bahwa target produksi sampai dengan tahun 2026 adalah untuk komoditi padi sebesar 230.367 ton, komoditi Jagung 442.753 ton dan porang 54.312 ton. Komoditi padi Target 32.610 Ha, realisasi tanam 23.616 Ha atau sebesar 72,42%.

Realisasi tanam tidak mencapai target 100% yakni hanya sekitar 72,42%. “Hal ini disebabkan karena terjadi alih komoditi pada lahan sawah tadah hujan yang biasanya ditanami padi, sekarang ditanami jagung dan beberapa komoditi hortikultura dan perkebunan,” ungkap Muhammad Syahroni, MM kepada insanchannel.com, Sabtu (30/4/2022) di Dompu.
Sedangkan komoditi jagung ditargetkan 52.693 Ha, realisasi tanam 63.599 Ha atau kalau di persentase kan sebesar 120,7%. “Pada lahan yang sebelumnya ditanami padi, saat ini banyak yang beralih ke jagung sehingga terjadi peningkatan pada luasan areal pertanamannya melebihi target,” paparnya.
Ketika berbicara tentang kebijakan, Muhammad Syahroni mengakui, ada kondisi kebijakan pemerintah pusat yang sedikit berbeda jika dibandingkan pada saat awal Dompu dulu mengembangkan jagung dengan saat sekarang ketika Dompu mengembangkan porang. “Ketika jagung dikembangkan, kebijakan pemerintah pusat saat itu dalam hal ini Kementerian Pertanian Fokus pada sektor hulu (budidaya) dan sektor hilir dibuatkan ruang untuk peran pihak swasta,” katanya.
Sehingga saat itu lanjutnya, dari sisi budidaya tidak perlu banyak gelontoran dana APBD untuk pengembangan jagung, karena saat itu bantuan benih jagung dan sarana pendukung budidaya jagung relatif banyak dikucurkan dari APBN. “Kondisi kebijakan tersebut, sedikit berbeda ketika saat sekarang kita mengembangkan porang, pemerintah pusat dalam pengembangan porang untuk sektor hulu (budidaya) lebih diarahkan pengembangannya dengan mengoptimalkan peran pihak swasta sementara pemerintah akan fokus pada sektor hilirnya,” paparnya.
Tentu kondisi tersebut tambahnya, menjadi tantangan buat Kab. Dompu sebagai kabupaten yang memiliki ruang fiskal APBD yang terbatas dan sebagai kabupaten yang mulai secara bertahap mengembangkan porang secara intensif. “Sehingga terkait kebijakan porang ke depan, di samping dilakukan pemetaan dan identifikasi potensi porang, maka langkah awal sebagai komoditi baru yang akan dikembangkan akan dilakukan demplot teknis pada beberapa lokasi yang akan di lakukan di musim hujan 2022 nanti,” katanya seraya menambahkan, disamping itu harus ada optimalisasi keterlibatan pihak swasta dalam sisi budidaya dan peran pihak swasta akan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan porang. (nas)











