MATARAM, INSANCHANNEL.COM – Awal bulan Qamariyah mempunyai kriteria unik yang sangat berbeda dengan penentuan waktu shalat dan gerhana bulan maupun gerhana matahari. Pembahasan tentang Penentuan awal bulan Qomariyah ini banyak sekali terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan, baik dalam bulan Ramadhan, bulan Syawal, maupun bulan Dzulhijjah. Maka dari itu Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. NTB menggelar Bimbingan Teknis Hisab Rukyat.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mencari kader-kader baru di bidang hisab rukyat,” tutur H.M. Jaelani, S.Pd, M.Pd, Kabag. TU Kanwil Kemenag NTB, Rabu (16/03) di Hotel Grand Madani Mataram.

Pada yang diikuti 30 peserta dari unsur KUA, Ormas Islam, pesantren, majelis taklim, praktisi hisab rukyat, serta pegawai Kementerian Agama lebih lanjut M. Jaelani, M.Pd menuturkan, hisab rukyat memiliki peran penting dalam peribadatan umat Muslim. Sejumlah ketentuan peribadatan dalam Islam tidak hanya dikaitkan dengan tata cara pelaksanaannya, tetapi juga terkait dengan waktu, tempat, dan arah kiblat.
Bimtek ini dilaksanakan mengingat penentuan hari awal bulan hijriyah terutama memasuki bulan Ramadhan 1443 H atau 2022 M, Syawal, dan Dzulhijjah merupakan agenda yang sangat penting di Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dikatakan, Penentuan awal bulan hijriyah dengan metode rukyatul hilal pada dasarnya sebagai observasi atau pengamatan langsung yang merupakan tindak lanjut atau mempertegas hasil metode hisab sehingga diperlukan tenaga hisab rukyat yang profesional.
Mengutip Jurnal Bimas Islam yang ditulis Jaenal Arifin, Dosen STAIN Kudus tentang Fiqih Hisab Rukyah Di Indonesia (Telaah Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyyah), berpendapat, Penentuan awal Ramadhan Syawal Dan Dzulhijjah sudah sering terjadi perbedaan di Indonesia ini. Namun selalu muncul kekhawatiran dan keraguan serta keresahan di sebagian masyarakat Indonesia bila akan memasuki bulan-bulan tersebut. Karena sering terjadi perbedaan. Masyarakat umum belum sepenuhnya menyadari sumber perbedaan itu. Umat sering menuntut awal Ramadhan dipersatukan, minimal di Indonesia, syukur kalau di seluruh dunia. “Dalam menentukan Keabsahan sebagian ibadah menurut syari’at Islam tergantung pada ketepatan waktu, tempat, atau arah,” kata Jaelani pada pembukaan kegiatan Bimtek.
Jaelani memberikan contoh shalat fardu yang memiliki syarat yang harus dipenuhi antara lain dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan dan menghadap kiblat. Namun sayang lanjutnya, tak sedikit masjid-masjid di Indonesia kurang tepat mengarah ke kiblat. Sementara itu tidak jarang pula ditemukan perbedaan jadwal waktu salat di suatu tempat yang secara geografis berdekatan. “Kerap kita temui, kumandang adzan yang menandai masuknya waktu salat antara masjid-masjid yang berdampingan kadang-kadang berbeda beberapa menit,” tutur Kabag TU Kanwil Kemenag NTB ini.
Perbedaan ini menurutnya seringkali bukan disebabkan masjid yang satu tidak adzan pada awal waktu tetapi justru karena jadwal waktu salat yang dijadikan acuan berbeda. “Masjid yang satu menggunakan jadwal yang dibuat secara real time atau khusus untuk hari dan tanggal tersebut, sedangkan yang lain menggunakan jadwal waktu shalat abadi, atau menggunakan konversi waktu dari jadwal yang dibuat untuk tempat tertentu yang memiliki perbedaan waktu cukup besar,”katanya menjelaskan.
Sementara itu salah seorang peserta Bimtek Muhasir, M.Pd kepada insanchannel.com mengungkapkan, melalui Bimtek hisab rukyat ini ketrampilan dan kompetensi peserta terwujud menuju kinerja yang professional. “Langkah ini dilakukan untuk memperkecil perbedaan di tengah masyarakat di bidang ilmu hisab dan rukyat, baik dari unsur ormas, majelis ta’lim maupun pondok pesantren,” ujar dosen tetap STAI Al-Amin Dompu yang juga kader NU Kab. Dompu. (nas)











