DOMPU, INSANCHANNEL.COM – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prop. NTB, Dr.H.M. Zaidi Abdad, M.Ag mengungkapkan, Kementerian Agama terus melakukan peningkatan pelayanan terbaik kepada masyarakat termasuk memberikan inovasi dan kreasi yakni dengan menyusun pedoman manasik haji yang dijadikan pegangan jamaah haji di NTB. Karena persoalan haji adalah persoalan penting bagi umat Islam.

“Kementerian Agama akan terus memberikan pelayanan terbaik kepada ummat ini,” ungkap Dr. H.M.Zaidi Abdad, M.Ag, Kakanwil Kemenag. Prop. NTB pada Penyusunan Rancangan Buku Panduan Manasik Haji Tahun 2022 Dalam Tiga Bahasa Lokal, Senin (13/12) di Hotel Same Hotel Mataram.
Di depan Ketua MUI, tokoh agama, Kakan. Kemenag. Se-NTB, Kabid PHU Kanwil Kemenag. NTB, Kasi PHU se-NTB dan undangan lain ini, HM. Zaidi Abdad mengatakan, persoalan yang sering muncul dalam pelaksanaan ibadah haji bukan saja persoalan tingkat pengetahuan, fanatisme kepada satu golongan atau seseorang tetapi juga melaksanakan ibadah haji atau karena ikut-ikutan. “Padahal tidak pernah ikut manasik langsung berangkat, sampai disana (Makkah-Red) jadi kebingunan,” paparnya.
Untuk itu lanjutnya ini, salah satu bentuk inovasi dan kreatifitas adalah dalam bidang komunikasi dengan menggunakan bahasa lokal. “Penyusunan ini adalah dalam rangka untuk tajdid (pembaharuan-red),” katanya. Dan ia mengakui, manasik selama ini sudah baik karena menggunakan manasik haji baik yang mu’tabarat dan lain-lain. Maka untuk mentransformasi perlu perbaikan. “Kita juga punya buku manasik haji oleh Kementerian Agama. Itu sudah bagus. Itu sebagai alas dasarnya,” paparnya pada acara yang dihadiri juga Kabid. PHU Kanwil Kemenag NTB ini.
Zaidi Abdad juga mengatakan, Kementerian Agama perlu menjemput kearifan local. Karena di NTB ini tambahnya memiliki tiga suku dengan keunikan bahasanya masing-masing yakni Sasak, Samawa dan Mbojo. “Buku yang ada didesain dengan mengggunakan tiga bahasa lokal dengan memilih bahasa-bahasa yang pantas yang halus kita pilih,” tandasnya.
Diakui juga di NTB telah terbit Al-Qur’an dengan terjemahan berbahasa Sasak dan Bima. Dan untuk menyusun pedoman manasik haji berbahasa lokal ini akan dilibatkan para pakar di bidang alih bahasa di NTB ini. “Kita minta masukkan dari KBIH, para tokoh-tokoh kita tentang apasih yang belum sampe ke kita,” tandasnya seraya mengatakan, di Bidang Bimbingan Masyarakat Islam juga tengah menyusun buku tentang Keluarga Sakinah.
Sementara Ali Sahbana, SE, Panitia Pelaksana Penyusunan Rancangan Buku Panduan Manaik Haji tahun 2022 ini mengatakan, masalah yang sering muncul ke permukaan dalam pelaksanaan ibadah haji termasuk muncul ke permukaan tentang ketidapuasan dan para jamaah. “Maka Kemenag terus meningkatkan pelayanan termasuk melakukan penyusunan buku,” paparnya seraya menambahkan, tujuan dari penyusunan buku dalam tiga bahasa local ini dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman jamaah secara mandiri. Sedangkan narasumbernya, Kakanwil Kemenag. NTB, Direktur Bina Haji, Ketua PWNU, Ketua NW NTB, dan KetuaMuhammadiyah NTB dengan kegiatan selama tiga hari dari tanggal 13 sd 15 Desember 2021. (nas)











