JAKARTA, INSANCHANNEL.COM-Jejak kaki dua pasangan paruh baya petang itu terhenti saat melihat lapak warung pecel lele. Perut keroncongan membuat pasangan ini untuk menikmati makan malam dulu sebelum sholat magrib ditunaikan.
“Umi…mirip ibu saya yang sudah dua tahun lalu meninggal dunia,” sapa Ani (sebut saja begitu), wanita penjual nasi pecel di sisi kanan Masjid Cut Nyak Dien sambil menyuguhkan makanan yang dipesan pasangan ini.
Setelah menikmati makanan di lapak sederhana dari pasangan penjual yang mengaku berasal dari Madura dan tinggal di Menteng Jakarta pusat ini, pasangan wisatawan domestik yang menginap di hotel Cipta Jakarta Pusat inipun berpamitan.

Wanita asal Madura sebut saja, Ani (43) inipun tiba-tiba memeluk wanita paruh baru sebut saja Umi Ana (59) ketika berpamitan. Ani tak lagi mampu menahan air mata saat memeluk Umi Ana yang baru saja ia kenal sore itu. Derai air mata dari wanita yang merindukan sang bundanya tertumpah di balik balutan jilbab yang dikenakannya. Umi Ana-pun tak mampu menahan air mata ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Ani sore itu. Suami Ana yang asyik bermain bareng si bungsu 2 tahunan yang bersamanyapun terperangah melihat tingkah istrinya yang menyebut Umi Ana persis seperti ibunya.
Ani berusaha memberikan keyakinan kepada suaminya bahwa wanita di hadapannya persis seperti ibunya. Iapun membuka handphone miliknya dan memperlihatkan foto ibunya yang duduk di kursi saat masih hidup. “Iya betul, mirip saya,” sahut Umi Ana membenarkan apa yang Ani perlihatkan.
Masjid Cut Nyak Dien yang berada di Jalan Wahid Hasyim menjadi saksi bagi dua hamba Allah yang dipertemukan sekaligus menjadi obat rindu bagi mereka-mereka yang ditinggal wafat oleh keluarga tercintanya.
Antara Masjid Cut Nyak Dien berada di Jl. Wahid Hasyim dan Masjid Cut Meutia di Jl. Taman Cut Meutia yang berjarak 700 meter diantara keduanya seakan ada air mata sejarah. Air mata seorang ibu yang melepas suami ke medan perang. Air mata seorang pejuang yang menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur satu demi satu. Namun lebih dari itu, air mata yang ditahan demi kemerdekaan.
Ketika kaki melangkah dari Masjid Cut Nyak Dien menuju Masjid Cut Meutia, sesungguhnya pasangan itu tidak hanya berpindah tempat tetapi sedang menapaki jejak dua perempuan perkasa; Cut Nyak Dien dan Cut Meutia yang menulis sejarah dengan keberanian, pengorbanan, dan doa.
Di Masjid Cut Meutia, zikir, yasinan dan doa bergema menyambut tahun baru Hijriyah 1447 H. Di Masjid Cut Meutia inilah ustadz Mukhlis Mughni memberikan tausiyah malam tahun baru hijriyah tentang makna hijrah. Hijrah dalam pandangannya bukan saja berpindah tempat secara fisik tetapi perpindahan yang sesungguhnya adalah perpindahan menuju iman.
“Kalau dulu hijarahnya dari Makkah ke Madinah tetapi hijrah sekarang dari perbuatan dosa kepada ketaatan, hijrah dari kemaksiatan kepada ketaatan kepada Allah,” kata ustadz Mukhlis Mughni di masjid Cut Meutia, Senin malam (15/6/2026).
Di antara jejak perjuangan Cut Nyak Dien dan Cut Meutia, ada air mata para ibu yang melepas suami dan anak-anaknya ke medan juang. Ada doa yang dipanjatkan dalam sunyi malam, ada kerinduan yang dipendam demi kemerdekaan negeri ini.
Mereka bukan hanya mengangkat senjata, tetapi juga memikul duka, kehilangan, dan pengorbanan yang tak terhitung. Air mata itu bukan tanda kelemahan, melainkan saksi keteguhan hati perempuan-perempuan Aceh yang menjadikan cinta kepada agama dan tanah air lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.
Maka ketika kita menyebut nama Cut Nyak Dien dan Cut Meutia, sesungguhnya kita sedang mengenang dua mata air keteladanan: keberanian yang lahir dari iman, dan pengorbanan yang dibasuh oleh air mata perjuangan. Diantara mereka berdua, mengalir air mata sejarah namun lebih tajam daripada pedang, karena darinyalah lahir kemerdekaan. (ic01)











