“Demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. (QS. As-syam, 6-7)
Sekitar pukul 04.15 dinihari waktu Bandung, sebuah mobil sedan metalik berhenti tepat di tangga loby hotel, seorang pemuda bertubuh tambur mengenakan celana pendek keluar dari kursi depan mobil dalam kondisi lemas namun masih mampu membuka dompet.
Sementara di jok belakang sepasang muda-mudi seakan enggan keluar dari mobil yang ditumpanginya karena kondisi pasangannya yang mabuk berat. Beberapa menit kemudian akhirnya ia keluar juga sambil membangunkan pasangannya yang masih tidur pulas di kursi belakang.

Setelah turun dari kendaraan yang ditumpangi beberapa menit kemudian sang perempuan akhirnya keluar lalu muntah sambil dipegang sama pasangannya menaiki tangga hotel.
“Heran kita, udah buang uang untuk mabuk lalu dimuntahin lagi,” celetuk sang driver online, Tono (nama samaran) yang ditumpangi insanchannel.com menuju Masjid Imtizaj Bandung, Rabu (10/6/2026) waktu dini hari.
Sang driver online ini seakan ingin menceramahi kondisi yang baru saja ia saksikan sendiri ketika pasangan muda yang baru saja kembali ke hotel tempat mereka nginap dan menghabiskan malamnya entah dimana mereka hambur-hamburkan uangnya. Bahkan sang sopir online ini mengaku, jika ada konsumennya berbuat ulah, ia tidak segan-segan untuk meminta pelanggannya untuk meng-cansel-nya.
Mereka bilang cerita supir online ini, bahwa dengan mabuk itu bisa menghilangkan pusing atau masalah yang dihadapinya. “Lalu setelah sadar dari mabuk, pusing atau masalah hilang?. Tidak…!,” ujarnya meniru ketika berdebat kusir dengan salah seorang penumpangnya. Debat kusir itu katanya, pernah dialaminya dengan penumpang yang belum benar-benar mabuk saat menaiki mobilnya.

Mobil yang kami tumpangipun melaju dengan lancar di jalanan Kota Bandung yang sepi hingga tiba di Masjid yang dituju. Kejadian sebelum tiba waktu subuh di sebuah tangga hotel itu seakan Allah menggerakkan hati Imam sholat subuh di Masjid Al-Imtizaj Bandung untuk membacakan surat Asy-Syams dari ayat pertama sampai akhir ayat di rakaat pertama setelah membaca AlFatihah. Kita tertegun dengan firman Allah yang dibacakan imam subuh seakan ingin memberi peringatan. Di potongan ayat yang dibaca berbunyi:
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
“Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya.
Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).
Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya,” (QS.As-Syam, 8-10)
Allah menghadirkan ayat-ayatNya kapan dan dimanapun sebagai bahan tadabbur bagi hambaNya. Demikian juga dengan kejadian subuh itu sebagai i’tibar. Di saat kebanyakan manusia masih terlelap dalam mimpi atau aktifitas lain, ada hamba-hamba yang bangkit meninggalkan hangatnya pembaringan dan menghentikan segala urusan terkait tugas malamnya. Mereka berwudhu dengan air yang dingin, lalu berdiri menghadap Allah ta’ala.
Bagi hamba-hamba menanggalkan aktifitas lain di subuh yang sunyi, air mata lebih mudah jatuh. Keluh kesah yang tak sanggup diceritakan kepada manusia, diperdengarkan kepada Allah. Luka yang tersembunyi, harapan yang terpendam, dan dosa yang selama ini membebani dada, semuanya dibawa dalam sujud yang panjang.
Maka pantaslah Allah berfirman di ayat lain ;
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap…” (QS. As-Sajadah: 16)
Di subuh yang sunyi, kita diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar tentang mencari dunia. Ada perjalanan panjang menuju akhirat. Ada hari ketika jabatan ditinggalkan, harta diwariskan, dan yang menemani hanyalah amal saleh.
Maka pantas Rasulullah pernah bersabda:
عن عائشة رضي الله عنها، أن رسول الله ﷺ قال:
«رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»
“Dua rakaat sunnah Fajar lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan betapa agungnya nilai dua rakaat sunnah sebelum Subuh. Jika seluruh dunia dengan segala kemewahannya dibandingkan dengan dua rakaat tersebut, maka dua rakaat sunnah Fajar lebih bernilai di sisi Allah daripada dunia dan seluruh isinya. Semoga kita mampu mendawamkannya. Aamiin ya rabbal alamin. (ic01)










