JAKARTA, INSANCHANNEL.COM-
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.(QS. An-Nahl, 125)
Kadang Allah tidak memilih seseorang karena ia paling ingin berada di depan, tetapi karena ia paling siap memikul beban ketika semua orang membutuhkan arah.
Di pundaknya bukan hanya ada nama besar Tebuireng, bukan hanya darah perjuangan Mbah KH.Hasyim Asy’ari, tetapi ada amanah untuk menjaga warisan ulama agar tidak berhenti menjadi sejarah.

Tebuireng telah melahirkan banyak pemimpin. Kini zaman kembali bertanya:
Siapa yang akan menjaga ruh perjuangan itu, ketika NU menghadapi zaman yang semakin berubah?
Barangkali inilah saatnya Gus Kikin yang bernama lengkap KH.Abd. Hakim Mahfuzd tidak hanya akan menjaga apa yang telah diwariskan, tetapi menerjemahkan warisan itu menjadi kekuatan untuk masa depan.
Sebab menjadi penerus bukan sekadar meneruskan nama. Menjadi penerus adalah berani meneruskan perjuangan.
Dan apabila suatu hari amanah yang lebih besar itu datang mengetuk pintu, tidak melihatnya sebagai kemuliaan untuk diraih, tetapi sebagai beban pengabdian yang harus dijawab dengan istiqamah, ilmu, dan keikhlasan.
“Di Lampung beliau tidak ingin masuk sebagai PBNU tapi beliau gak mau,” ujar KH. Abd Matin Djawahir, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur pada acara Silaturrahim dengan PWNU dan PCNU se-Indinesia di Royal Ballroom Hotel Royal Kuningan Jakarta, Sabtu malam (8/8/2026).

Pendiri dan Pengasuh Pesantren Sunan Bejagung ini mengungkapkan, Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang menugaskan Gus Kikin untuk menjadi calon Ketua Umum PBNU periode 2026/2031. “Supaya NU teduh KH. Abdul Hakim Mahfud harus menjadi ketua umum,” tandas Kiyai Matin di depan ratusan undangan yang hadir seraya menegaskan lagi, Gus Kikin tidak ingin jadi ketua PBNU tapi yang menugaskannya untuk maju sebagai calon ketua umum PBNU.
Pendiri dan pengasuh Pesantren Sunan Bejagung ini mengatakan, di kala Nahdlatul Ulama ini goyah maka timbul semboyan:
NU teguh tanpa gaduh. NU teduh NU gaduh.
“NU harus teduh,” ungkapnya.
Menjawab pertanyaan wartawan ucara acara silaturrahim di ballroom hotel Royal Kuningan, KH. Abd. Hakim Mahfud mengatakan, silaturrahim ini adalah tradisi NU yang telah dibangun sejak dulu. “Saya ini sering ke daerah-daerah, mumpung dari daerah bertumpul di Jakarta maka kita adakan acara silaturrahim ini,” ujar zuriyahnya Mbah Hasyim Asy’ari ini sembari tersenyum. Ia berharap, mudah mudahan ini menjadi taatan bagi semuanya karena ini merupakan tradisi NU.
Menjawab pertanyaan tentang adanya dukungan untuk tampil sebagai ketua UU mum PBNU. “Kita berkhidmat di NU itu mau di posisi manapun kita bisa berkhidmat,” ujarnya. Yang menjadi pertimbangan katanya, adalah bagaimana kita berkhidmat untuk menjadikan kemaslahatan untuk umat sekaligus pesan dari muassiss dan leluhur demi kebaikan untuk NU. “Kalau sudah ditugaskan harus siap,” ujar kiyai yang bersemboyan “Merawat Tradisi, Meneguhkan Negeri” ini nada diplomatis. (01ic)










