PRAYA, INSANCHANNEL.COM – Nama KH. Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam terus berkibar diantara nama-nama figur calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang beredar untuk Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang Jawa Timur akhir Agustus mendatang. Keseriusan kiai muda NU, cucu pendiri NU KH Bisri Syansuri untuk tampil disampaikan langsung pada silaturrahim dengan jajaran PWNU dan PCNU se-Nusa Tenggara Barat di Hotel Illira Lite, Lombok Tengah.
“Motivasi utama kami karena kami diperintahkan oleh guru kami kiyai Jazuli (KH. Huda Djazuli-Red),” jujur KH. Abdussalam Shohib, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur saat bersilaturrahim dengan PWNU & PCNU se-NTB di Hotel Illira Lombok Tengah, Jum’at (31/7/2026).

KH. Abdussalam Shohib yang merupakan salah satu cucu KH Bisri Syansuri, tokoh besar Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang ini lebih lanjut mengungkapkan, motivasi itu bermula dari adanya konflik yang terjadi di tubuh PBNU. “Masa kamu membiarkan NU konflik seperti ini, saya (kiyai Djazuli-red) prihatin maka kamu harus ikhtiar di muktamar untuk jadi pemimpin di NU,” ujar Gus Salam meniru apa yang menjadi dawuh sang gurunya.
Di tengah desakan dan dawuh sang kiyai, Gus Salam hanya bisa diam tidak berani menjawab atau menolak. “Mau menerima merasa tidak pantas,” jujurnya lagi sembari menceritakan desakan gurunya lagi melalui khodamnya apakah Gus Salam sudah berusaha untuk di muktamar sesuai dawuh kiyai Huda.

Gus Salam merasa perintah kiyai ini tidak mudah apalagi se-Indonesia dan merasa belum punya kemampuan untuk memimpin NU berskala nasional. Akhirnya Gus Salam menggelar musyawarah dengan orang-orang dekat dan jaringan yang ada bagaimana merespon dawuh kiyai ini dengan kondisi seperti ini. “Kesimpulan karena ini dawuhnya kiyai, kita berusaha semaksimal mungkin,” ungkapnya pada acara yang di hadiri wakil Rais PWNU NTB, TGH. Munajib Khalil dan PCNU di aula Mandalika hotel Illira Lite ini.
Kemudian ia bangun komunikasi dengan jaringan yang ada. Setelah adanya kemantapan dengan dukungan penuh dari jaringan yang selama ini dibangun termasuk jaringan keluarga selanjutnya ia menghadap Kiyai Huda untuk menyampaikan bahwa Gus Salam menyatakan siap untuk melaksanakan perintah kiyai Huda semampunya dan semaksimal mungkin.
Dengan motivasi sang kiyai dan dorongan kuat melalui musyawarah dan ikhtiar itu, maka lahir gagasan Gus Salam yakni merawat persaudaraan dan kedua menghidupkan kembali ruh perjuangan Nahdlatul ulama. Karena menurutnya, ruh NU itu ada tiga: Ruhul hikmah yakni jiwa pengabdian yang menimbulkan integritas dan kredibilitas, Ruhul jihad yakni daya juang yang tangguh yang menimbulkan kemandiran dan independensi dan ketiga Ruhul Ma’had yang berisi ilmiyah, amaliyah dan adabiyah. NU landasannya harus ilmu dan menjaga adabiyah.
Bagi Gus Salam bahwa setiap zaman memiliki panggilannya sendiri. Ada masa ketika umat membutuhkan penjaga ilmu. Ada masa ketika umat membutuhkan peneguh akidah. Ada masa ketika umat membutuhkan penyambung persaudaraan. Dan ada masa ketika seluruh panggilan itu datang sekaligus: penjaga ilmu, meneguhkan akhlak, merawat persatuan, membangun kekuatan ekonomi, serta menyiapkan generasi yang sanggup berdiri tegak di tengah perubahan dunia. “Nahdlatul Ulama hari ini berada pada titik sejarah seperti itu,” ungkap Gus Salam dalam pengantar Bukunya “Menjaga Langit Pesantren Dari Tradisi Menuju Peradaban”. (ic01)











