DOMPU, INSANCHANNEL.COM – UPTD Dikpora Kecamatan Hu’u menggelar diskusi dan evaluasi pelaksanaan Program Pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/Early Childhood) di bawah payung program EQUIP, Jumat (31/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula UPTD Dikpora Kecamatan Hu’u ini menjadi ajang refleksi bersama terhadap capaian, tantangan, dan kebutuhan selama pelaksanaan program pendampingan.
Kegiatan dipimpin Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Hu’u, Siti Fatimah, SE, dan dihadiri Muhammad Kurniadin dari Community Development (Cimdev) STM, bersama perwakilan 11 PAUD/TK dampingan di Kecamatan Hu’u.
Dalam forum tersebut, para peserta melakukan evaluasi terhadap implementasi program sekaligus menyusun rekomendasi perbaikan guna memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini.

Muhammad Kurniadin menjelaskan, STM berperan sebagai fasilitator yang mendukung pendanaan program, sedangkan keberhasilan transformasi pendidikan sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Kolaborasi ini melibatkan Dikpora Kabupaten Dompu, UPTD Dikpora Kecamatan Hu’u, yayasan, kepala sekolah, guru, tim pendamping, dan masyarakat. STM hanya sebagai fasilitator, karena transformasi pendidikan memerlukan aksi kolektif dari seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Program pengembangan PAUD bagi kepala sekolah dan guru berlangsung sejak November 2023 hingga Agustus 2027. Intervensi pada jenjang PAUD difokuskan pada peningkatan kompetensi guru serta penyediaan sarana belajar dasar.

Sementara itu, pada jenjang SD/MI dan SMP, program menyasar MI Miftahul Jannah Daha, SDN 12 Hu’u, dan SMPN 1 Hu’u dengan fokus pada penguatan kepemimpinan sekolah, peningkatan kualitas pembelajaran, serta akreditasi sekolah.
Adapun pada jenjang SMA/SMK, sasaran program meliputi SMKN 1 Hu’u, SMAN 1 Hu’u, dan SMAN 1 Pajo dengan fokus pada penguatan fondasi program, literasi, serta kepemimpinan sekolah.
Kurniadin mengapresiasi komitmen seluruh PAUD/TK yang selama ini mengikuti pendampingan. Menurutnya, berbagai masukan yang diperoleh dalam evaluasi akan menjadi bahan penyempurnaan program ke depan.
Ia juga memotivasi para guru dan pengelola lembaga untuk terus meningkatkan kualitas dan membangun citra positif lembaga pendidikan.
“Jadilah lembaga yang tampil beda melalui prestasi. Ketika kita mampu membangun branding yang baik, maka akan semakin banyak pihak yang memperhatikan dan mendukung. Kita adalah jembatan dunia pendidikan. Ketika bapak dan ibu berhasil mengembangkan pendidikan, maka itu menjadi jembatan bagi kemajuan generasi Hu’u ke depan,” katanya.

Penanggung Jawab SPS Al Ikhlas Sawe, Dewi Hartati, mengaku pendampingan STM melalui Kanaka Foundation membawa banyak perubahan di lembaganya.
Jika sebelumnya guru hanya menyusun laporan sederhana dan proses pembelajaran berjalan apa adanya, kini mereka telah mampu membuat laporan yang lebih terstruktur, menyusun alat permainan edukatif (APE) dari bahan di sekitar, serta merancang pembelajaran yang lebih variatif.
“Dulu kami sering bingung menentukan tema pembelajaran. Sekarang semuanya sudah terarah sehingga proses belajar anak menjadi lebih terencana,” ungkapnya.
Menurut Dewi, meskipun PAUD Al Ikhlas masih menempati bangunan pinjaman dan harus berpindah karena pemilik kembali menggunakan bangunan tersebut, kondisi itu tidak mengurangi semangat mereka dalam memberikan layanan pendidikan terbaik. “Bagi saya, pembelajaran dan pendidikan itu nomor satu,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Maemunah dari PAUD Tuni Ncuhi Daha. Ia mengaku kemampuan para guru meningkat signifikan setelah mendapatkan pendampingan.
“Tadinya guru kami belum bisa, sekarang sudah bisa. Selain pendampingan, kami juga mendapat bantuan renovasi lantai ruang belajar sehingga anak-anak dan guru lebih nyaman dalam kegiatan belajar mengajar,” katanya.
Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Hu’u, Siti Fatimah, SE, mengingatkan agar seluruh lembaga memanfaatkan berbagai peluang bantuan pemerintah untuk peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.
Menurutnya, salah satu syarat utama memperoleh program revitalisasi sekolah adalah memiliki kelembagaan yang jelas dan lahan milik sendiri.
“Sekarang ada program revitalisasi sekolah dan lembaga pendidikan dari pemerintah. Namun syaratnya status kelembagaan harus jelas dan memiliki lahan sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengakui pendidikan usia dini di Kecamatan Hu’u masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. Banyak lulusan sarjana belum berminat mengabdi di PAUD/TK sehingga sejumlah lembaga masih memanfaatkan tenaga lulusan SMA sederajat. Meski demikian, kehadiran Universitas Terbuka diharapkan menjadi solusi bagi para guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Siti Fatimah menyebutkan terdapat 34 lembaga PAUD/TK di Kecamatan Hu’u, namun baru 11 lembaga yang mendapat pendampingan melalui program STM.
“Kita harus bersyukur dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya agar kualitas pendidikan anak usia dini di Hu’u terus meningkat,” pungkasnya.
Sebelas lembaga PAUD/TK yang menjadi dampingan STM meliputi TK Dharma Wanita, TK Harapan Jaya, TK Al-Huda, PAUD Tuni Ncuhi, PAUD Nurul Huda, PAUD Pasir Putih, SPS Ar-Rizki, PAUD Teluk Cempi, SPS Al-Ikhlas, PAUD Delima, dan PAUD My Little School. (ic02)










