BANDUNG, INSANCHANNEL.COM- Kendaraan melaju membelah jalanan Bandung, melewati hiruk – pikuk kehidupan, gedung-gedung yang menjulang, dan manusia-manusia yang sibuk mengejar urusan dunianya. Namun dari sekian aktifitas itu, ada saja yang mencoba mentadabburi karya-karya monumental yang sengaja dibangun untuk memuji kebesaran Sang Pencipta jagat raya ini.
Semakin dekat ke kawasan yang dikelilingi barisan pegunungan tanah Pasundan yang sejuk, semakin jelas tampak siluet megahnya Masjid Raya Al Jabbar. Kubah-kubahnya berdiri anggun di tengah hamparan air yang tenang. Dari kejauhan ia seperti cahaya yang memanggil.
Ketika kaki mulai menapaki pelatarannya, hati terasa kecil. Begitu banyak dosa yang pernah dilakukan. Begitu banyak nikmat yang sering dilupakan. Begitu banyak waktu yang berlalu tanpa syukur yang cukup. Di hadapan kemegahan bangunan itu, seakan kita sadar bahwa manusia mampu membangun masjid yang indah tetapi hanya Allah yang mampu membangun ketenangan di dalam dada setiap hambaNya.

Danau buatan yang mengelilingi masjid seakan mengajarkan bahwa hidup ini terus mengalir dan tidak ada yang abadi.
Yang akan menemani perjalanan terakhir adalah sujud-sujud yang pernah dilakukan dengan ikhlas.
Di dalam masjid, saat pandangan tertuju ke arah mihrab tertata dengan indah tulisan Asmaul Husna dan teringat firman Allah:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jinn, 18)
Betapa banyak manusia yang datang ke masjid membawa beban hidup. Ada yang datang dengan hati yang patah. Ada yang datang dengan air mata yang tertahan. Ada yang datang dengan doa-doa yang belum terjawab. Dan juga ada yang datang hanya sekedar untuk menikmati indahnya arsitektur bangunan.

Apapun yang melingkupi hati seseorang menuju masjid ini, Allah Yang Maha Al-Jabbar, Yang Maha Memperbaiki segala yang retak dan hancur, menerima mereka semua. Barangkali itulah makna terdalam perjalanan menuju Masjid Al Jabbar. Barangkali datang masjid ini bukan untuk mengagumi arsitekturnya semata tetapi datang untuk memperbaiki hati yang mulai jauh dari Allah, menghidupkan kembali rindu yang lama mati.
“Karena suatu hari nanti, perjalanan kita tidak lagi menuju Bandung, tidak lagi menuju sebuah masjid yang megah, tetapi menuju alam kubur, menuju hari perjumpaan dengan Allah Rabbul Jalil,” ujar salah seorang jamaah yang berkata lirih saat melantai di karpet Al Jabar seraya berpesan, sebelum perjalanan terakhir itu tiba singgahlah lebih sering di rumah-rumah Allah.
Karena katanya, mungkin saja suatu hari nanti langkah kita yang mengantarkan ke masjid akan menjadi saksi yang menyelamatkan kita di hadapan Allah.
“Saya merasa takjub yang luar biasa bisa melihat langsung kemegahan kubah tanpa tiang masjid al jabbar,” jujur Ilham, M.Si, salah seorang wisatawan domestik usai melaksanakan sholat magrib berjamaah di Masjid Al-Jabbar Bandung Rabu malam (10/6/2026) kepada insanchannel.com.
Laki-laki yang sehari-hari bertugas sebagai pengawas madrasah di Dompu ini mengakui, masjid ini memiliki arsitektur yang futuristik berpadu dengan harmoni dengan sentuhan seni yang religius. “Suasananya terasa begitu khusyuk sekaligus teduh. Kemegahan fisik bangunan seolah melebur dengan keindahan ukhuwwah sekaligus memantik rasa syukur atas kesempatan untuk bersujud di Masjid Al-Jabbar,” tuturnya.
Untuk itu ia berharap, Masjid Al-Jabbar tidak sekedar menjadi ikon wisata religi atau simbol kemegahan arsitektur semata melainkan terus tumbuh menjadi pusat peradaban dakwah Islam yang sejuk serta pusat edukasi dan literasi yang mencerahkan umat. Aamiin ya Rabbal Alamiin. (ic01)










