ADVERTISEMENT
Jumat, 14 Agustus 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Peraturan Perusahaan
  • Kontak Kami
Insan Channel
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya
No Result
View All Result
Insan Channel
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Heterarki Tidak Menafikan Adanya Hierarki, Tetapi…..

Dari Pengukuhan Atun dan Wahid, Bag. II

admin@insanchannel.com by admin@insanchannel.com
17 November 2022
in Pendidikan
0
Heterarki Tidak Menafikan Adanya Hierarki, Tetapi…..

Rektor UIN Mataram, Prof.Dr. H.Masnun Tahir, M.Ag ketika mengukuhkan Pasutri Sebagai Guru Besar

Bagikan di WahtsAppBagikan di Facebook

MATARAM, INSANCHANNEL.COM – Prof. Abdul Wahid dan Prof. Dr. Atun Wardatun menegaskan, heterarki sejatinya konsep lama yang memfosil. Secara definisi, heterarki adalah hubungan antarelemen yang tidak diurutkan (diranking), atau elemen-elemen tersebut memiliki potensi untuk dirangking dalam berbagai cara. Misalnya kekuasaan tidak bisa dirangking tetapi bisa diimbangkan (counterpoised). Karena tidak berurutan, maka kekuasaan bisa bertebaran atau bergantian dari satu lokus ke lokus lain, dari satu otoritas ke otoritas lain.

Prof Wahid dan Prof Atun Saat dikukuhkan

“Sebagai misal, seorang akademisi bisa saja memiliki reputasi internasional dan oleh karenanya “dikonstruksi” berada pada top rank dibanding dengan akademisi lain, tetapi bisa tidak atau sebaliknya jika dilihat dari pengaruhnya pada masyarakat,” ungkap Prof. Dr. Hj. Atun Wardatun dan Prof. Dr. H. Abdul Wahid pada Acara Pengukuhan Sebagai Guru Besar, Rabu (16/11/2022) di Auditorium UIN Mataram..

RelatedPosts

Bupati Dompu Lepas 40 Kontingen Pramuka Ikuti Jambore Nasional XII 2026

Kemerdekaan Tidak Boleh Berhenti Di Upacara

Program EQUIP STM Dinilai Tingkatkan Kompetensi Guru di 11 PAUD/TK Dampingan

Konsep heterarki ini katanya, menarik untuk digali kembali menjadi perspektif dalam menjelaskan relasi kekuasaan dan otoritas terutama karena dua hal: pertama, basis kekuasaan individual maupun komunitas berubah sesuai konteks yang dinamis; kedua, elemen-elemen kehidupan dalam masyarakat yang kompleks berinteraksi sedemikian rupa sehingga mengharuskan adanya perangkingan ulang secara terus-menurus dari sebuah struktur sosial.

Konsep ini kata Ayah/ibu dari Aqara Warakain, Ara Wali, Aribal Waqy dan Ana Ma Waheeba ini, belum banyak dipakai di dalam studi relasi gender dan agensi perempuan di Indonesia, demikian juga pada studi terkait otoritas keagamaan pada masyarakat Muslim. Adeney-Risakota (2016) sedikit menyinggung konsep ini ketika mendiskusikan the imaginary power yang dimiliki perempuan Indonesia di dunia publik. “Ia berhasil membuktikan bahwa patriarki bukan satu-satunya sistem relasi gender yang berlaku secara nyata di Indonesia, karena memang struktur masyarakat Indonesia pada dasarnya heterarkis,” paparnya.

Prof Wahid dan Prof Atun di depan Rektor UIN Mataram

Hanya saja lanjutnya, penting digarisbawahi bahwa heterarki tidak selalu lebih egaliter dibandingkan dengan sistem hierarki, dan keduanya bukan antitesa, melainkan heterarki memfasilitasi berlangsungnya peringkatan yang dinamis, “flexible and shifting rangking” sehingga superioritas dan inferioritas bisa tertukar dalam relasi, tergantung konteks.

Menurut mereka, pada sistem heterarki terdapat peluang terjadinya apa yang disebut quasi hegemoni, yakni modifikasi dan konsolidasi sistem kekuasaan tetapi bersifat sementara hanya untuk kepentingan resistensi demi perimbangan kekuatan. Hegemoni seolah-olah ini tetap mengakui adanya pertingkatan di dalam struktur sosial di mana pihak tertentu memiliki kuasa dan otoritas, tetapi kuasa dan otoritas ini dapat dipertukarkan karena sebenarnya tiap manusia dalam identitas mereka yang beragam memiliki agensi secara bersama-sama. “Cara mereka mengoperasikan agensinya ini dilakukan melalui sistem saling mengakomodasi dan bekerja sama,” tandasnya pada acara yang dihadiri keluarga besar kedua pasangan ini.

Dikatakan, pengakuan adanya pertingkatan beragam dari heterarki memungkinkan terjadinya mobilsasi dan perubahan sosial. Seseorang atau kelompok yang berada pada kelas lebih rendah bisa menduduki kelas lebih tinggi, jika pertingkatan itu menggunakan angle atau dasar yang berbeda. “Heterarki tidak menafikan adanya hierarki, tetapi mengakui bahwa tidak ada pemapanan hierarki dan status quo pada pertingkatan manusia dalam relasi sosialnya,” paparnya seraya mengatakan, heterarki oleh karenanya bermakna hetero-hierarchies (pertingkatan jamak dan multi arah) yang merupakan lawan dari mono-hierarchies (pertingkatan tunggal).

Salah satu varian dari hetero-hirarchies itu sendiri terlihat pada sistem kekuasaan diarki yang menjadi ciri khas masyarakat Austronesia termasuk wilayah Indonesia Timur. Diarki secara bahasa adalah pemerintah yang kekuasaannya terbagi ke dalam dua otoritas. “Sistem kekuasaan di Bima diistilahkan dengan diarki karena ada dua kekuasaan yang memegang peranan yaitu Sultan dan Raja Bicara,” tandasnya.

Di balik praktik budaya dan tradisi sebagai ‘wajah dan rona’ masyarakat Bima jelasnya, ada ‘hati dan jantung’ sosial yang tidak sepenuhnya dapat diselami. ‘Inner beauty’ dan ‘kekuatan’ sosial itu nyelempit (embodied) begitu rupa dalam lapisan-lapisan kebudayaan, berkelindan dalam spiritualitas dan ‘hidden transcript’ yang berserakan pada ragam ritual, peribadatan, dan festival.

Di balik ortodoksi, fanatisme, dualitas, dan keragaman, ada kreatifitas (heterodoksi), ada relasi-relasi yang dinamis, termasuk relasi kuasa, permainan kekuasaan, hegemoni, dominasi, resistensi dan adaptasi, juga konflik sekaligus mekanisme penyelesaiannya.

“Gerak dari wacana ke praktik, dan selanjutnya menghasilkan transformasi, berlangsung karena ada individu atau komunitas yang berperan sebagai otoritas, agen, serta aktor atau aparatus,” ujarnya kemudian mengatakan, otoritas adalah pihak yang telah menghimpun dan memiliki modal sosio-kultural dan mengkonversinya menjadi kharisma dan kuasa. Dan agen adalah mereka yang memiliki kapasitas bertindak, atas nama diri sendiri dan terutama kelompok. (bersambung…)

Previous Post

Bima, Tidak Ada Identitas Tetap Bagi Otoritas Agama

Next Post

Quasi Hegemoni Ala Dou Mbawa

admin@insanchannel.com

admin@insanchannel.com

Related Posts

Bupati Dompu Lepas 40 Kontingen Pramuka Ikuti Jambore Nasional XII 2026
Pendidikan

Bupati Dompu Lepas 40 Kontingen Pramuka Ikuti Jambore Nasional XII 2026

5 Agustus 2026
Kemerdekaan Tidak Boleh Berhenti Di Upacara
Pendidikan

Kemerdekaan Tidak Boleh Berhenti Di Upacara

3 Agustus 2026
Program EQUIP STM Dinilai Tingkatkan Kompetensi Guru di 11 PAUD/TK Dampingan
Pendidikan

Program EQUIP STM Dinilai Tingkatkan Kompetensi Guru di 11 PAUD/TK Dampingan

31 Juli 2026
Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Yapis Dompu Raih Akreditasi Baik Sekali
Pendidikan

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Yapis Dompu Raih Akreditasi Baik Sekali

30 Juli 2026
MTsN 1 Dompu Tutup Upacara Bendera dengan Penyerahan Buku Karya Siswa, Kakan Kemenag Apresiasi Budaya Literasi
Pendidikan

MTsN 1 Dompu Tutup Upacara Bendera dengan Penyerahan Buku Karya Siswa, Kakan Kemenag Apresiasi Budaya Literasi

27 Juli 2026
Penyuluh Goes To School: Langkah Konkret Kemenag Dompu Ajak Para Siswa SMAN 2 Dompu Cegah Narkoba dan Kenakalan Remaja
Pendidikan

Penyuluh Goes To School: Langkah Konkret Kemenag Dompu Ajak Para Siswa SMAN 2 Dompu Cegah Narkoba dan Kenakalan Remaja

24 Juli 2026
Next Post
Quasi Hegemoni Ala Dou Mbawa

Quasi Hegemoni Ala Dou Mbawa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU

Gus Kikin: “Kalau Sudah Ditugaskan Harus Siap”

Gus Kikin: “Kalau Sudah Ditugaskan Harus Siap”

9 Agustus 2026
STM Cup V Hu’u Berakhir Dramatis, Cempi Bersinar dan Volta Hu’u Keluar sebagai Juara

STM Cup V Hu’u Berakhir Dramatis, Cempi Bersinar dan Volta Hu’u Keluar sebagai Juara

9 Agustus 2026
Cakil Dari Gedung MPR RI dan Hotel Royal Kuningan (bag. I) “NU Harus Menjadi Solusi”

Cakil Dari Gedung MPR RI dan Hotel Royal Kuningan (bag. I) “NU Harus Menjadi Solusi”

9 Agustus 2026
Antusiasme Tinggi, Pendaftar Golo Mori Sunset Run 2026 Lampaui Target Sebelum Race Day

Antusiasme Tinggi, Pendaftar Golo Mori Sunset Run 2026 Lampaui Target Sebelum Race Day

7 Agustus 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Peraturan Perusahaan
  • Kontak Kami

© 2021 - insanchannel.com - Developed by Tokoweb.co

  • Home
  • Pemerintahan
  • Pembangunan
  • Ekonomi
  • Hukum dan Kriminal
  • Pendidikan
  • Agama
  • Pariwisata
  • Lainnya
    • Peristiwa
    • Sosial dan Budaya